Rabu, 21 Januari 2015

Jual Gelang Batu Kalimantan Cantik!!!

Kabar gembira buat para wanita maupun Anda yang pria untuk wanita Anda tercinta... 

Tersedia gelang batu Kalimantan. Dijamin 100% batu dengan corak yang unik-unik dan cantik. Gelang bersifat elastis karena menggunakan karet sehingga bisa menyesuaikan dengan ukuran tangan. 
Diameter: 7 cm, ketebalan: 1,2 cm, berat: 40 gram; tanpa karet. Warna: campuran jingga, hijau. Harga Rp 100.000 (belum ongkir)

 
Diameter: 6 cm, ketebalan: 2,5 cm, berat: 70 gram, menggunakan karet. Warna: hijau daun. Harga Rp 120.000 (belum ongkir).

Diameter: 6 cm, ketebalan: 2,5 cm, berat: 70 gram; menggunakan karet. Warna: campuran merah, hijau. Harga Rp 120.000 (belum ongkir)

Diameter: 5,2 cm, ketebalan: 2 cm, berat: 45 gram; menggunakan karet. Warna: hijau tosca dengan corak garis random coklat. Harga Rp 75.000 (belum ongkir)

Diameter: 5,8 cm, ketebalan: 1.3 cm, berat: 30 gram; menggunakan karet. Warna: coklat. Harga Rp 50.000 (belum ongkir)

Diameter: 5,3 cm, ketebalan: 1,4 cm, berat: 41 gram; menggunakan karet. Warna: coklat gradasi hitam. Harga Rp 50.000 (belum ongkir)

Diameter: 5,5 cm, ketebalan: 2 cm, berat: 40 gram; menggunakan karet. Warna: hijau tosca dengan corak garis coklat. Harga Rp 75.000 (belum ongkir)

Diameter: 5 cm, ketebalan: 1,8 cm, berat: 25 gram; menggunakan karet. Warna: campuran coklat, hitam dengan glitter berwarna emas. Harga Rp 50.000 (belum ongkir)

Diameter: 5,6 cm, ketebalan: 2,2 cm, berat: 40 gram; menggunakan karet. Warna: hijau tosca dengan corak garis coklat. Harga Rp 75.000 (belum ongkir)

Diameter: 6,2 cm, ketebalan: 2,5 cm, berat: 70 gram; menggunakan karet. Warna: campuran coklat gradasi warna kayu. Harga Rp 120.000 (belum ongkir)

Untuk pemesanan hubungi:

Rosita
Hp/WA: 081322095451
Email: rositaelianur@yahoo.com
Pin bbm: 769408B6

Kami hanya menyediakan produk terbaik dan pilihan. Diskon harga hanya berlaku untuk pemesanan lebih dari tiga (3) item. 

Sabtu, 06 Desember 2014

Desember Deg-degan

Gak kerasa ya waktu terlalu cepat berputar. Kaget juga pas ngeliat postingan terakhir di blog sekitar Mei kemarin. Udah lama banget gak nulis blog lagi... Hohoho. Kayaknya mesti lebih konsisten lagi deh update tulisan biar gak kudet ama waktu hehe

Btw, penghujung tahun ini bener-bener bulan yang bikin deg-degan banget, bloggers. Bayangin aja, pengumuman hasil Tes Kemampuan Dasar dari seleksi CPNS 2014 Provinsi Kalimantan Timur dilakukan bulan ini. Trus jadwal perjalanan suami yang padat n akunya yang pengen mudik karena ortu mau umrah bikin jebol tabungan. Alhasil tagihan membengkak n sisa duit buat bulan ini bener2 di red alert deh. 

Belum lagi gosip-gosip yang beredar bahwa Januari 2015 ntar bakal ada mutasi besar-besaran untuk karyawan. Mending ntar klo suami pindahnya ke Sumatera atau minimal Sanga-sanga yg masih Kaltim juga. Gimana kalo mutasinya malah ke Sorong, Papua??? Masih mending lah Sorong. Kalo Klamono??? Ooh tidaak... Bener2 bulan deg-degan deh Desember ini. 

Apa harus minum es degan kali ya biar bisa menormalkan perasaan? Emang lagi haus aja tu, alesan doang hehe...

Tapi ya, memang hari esok tu rahasia banget. Gak ada yang tau. Mau nanya ke orang pintar sekalipun gak kan bisa menyamai gimana esok bakal terjadi. Yaaa... Hanya Allah lah Yang Maha Tahu :)

Minggu, 11 Mei 2014

Memori Sectio Caesar (SC), Delivering

Hahaha... Bingung mau bikin judul gimana. Yang jelas intinya dari tulisan saya kali ini adalah mengenang kembali detik-detik melahirkan dulu. 

Kalau diingat-ingat lagi, jujur kayak enggak percaya dulu pernah merasakan hamil. Soalnya sekarang udah gede bayinya, mau masuk 10 bulan. Gak kerasaaaa... Padahal perasaan baru aja hamilnya, nikahnya juga hehehe. Beneran, tiga tahun tuh rasa baru 3 hari. Itu lah hidup (ni tulisan jadi fokus kemana sih?). 

Kebetulan saya dan suami sepakat untuk melahirkan di Aceh, disamping ibunda saya tercinta. Kalo ma mertua agak segan kalau perlu apa-apa. Bareng suami, malah kejauhan aksesnya kalau sewaktu-waktu kontraksi hebat. Akhirnya, mau gak mau saya bersikeras mau melahirkan dekat mama aja. 

Kebayang dong malam ini kamu masih asyik chatting ama suami yang notabene berjauhan (karena ia kerja di lapangan) trus tiba-tiba lagi enak-enaknya tidur, ada yang nendang-nendang dari dalam perut ngebet pengen keluar. Jangan bayangin kayak rasa kebelet pengen BAB. Lebih dari itu malah. Sumpah, tepat jam 2 malam tanggal 16 juli 2013 bertepatan dengan 7 Ramadhan di usia kehamilan tepat 40 minggu janin dalam perut menunjukkan aksi pemberontakan brutal pertamanya. Sakitnya luar binasa, dah! Tapi berlangsungnya hanya beberapa menit aja. Soalnya sempat berhenti lalu saya coba tidur dan terlelap selama satu jam. 

Tapi ternyata tepat jam 3 malam sundulan janin makin menjadi-jadi. Anehnya bukan mules di perut yang saya rasakan melainkan sakit yang super duper di bagian miss V. Karena terus-terusan dan enggak tahan lagi, akhirnya saya gedor-gedor lah pintu kamar mama dan ayah yang sedang tidur lelap. Sejak itu, sakitnya nyaris tanpa interval dan saya pun panik. Tingkah udah kayak orang gila dan sempat diprotes sama mama karena mondar-mandir enggak jelas di dalam rumah. Mama menyuruh saya untuk duduk agar tenang. Boro-boro mau tenang, ini miss V rasanya udah sobek. 

Setelah ngeliat baju tidur saya yang mulai berlendir bercampur sedikit darah, mama pun bergegas bersama ayah untuk mengantarkan saya ke RSU. Untungnya sorenya mama bersikeras untuk memasukkan pakaian bayi ke dalam koper karena jauh-jauh hari firasat beliau bilang bayi saya bakal lahir tanggal 16. Ada apa dengan tanggal 16? Ntar ulasan berikutnya :D

Terus terang, kondisi psikis saya bener-bener enggak siap dengan kontraksi yang lebih cepat dari perkiraan yang seharusnya tanggal 23 juli nanti. Padahal menjelang maghrib sempat kontrol juga, soalnya suka sering dorong. Tapi ya yang namanya melahirkan memang misteri. Enggak ada yang bisa memastikan. Begitu tiba di RS jam 4, oleh bidan diperiksa bagian dalam yang katanya udah bukaan 1. Masih lama, katanya. Ya Allaah, udah sakitnya ampun-ampunan. Kapan lahirnya? Trus diperiksa lagi pukul 6 lebih karena saya sempat tidur sambil nahan sakit dan penuh keringat, bukaan 3. Lalu bidan nyuruh saya untuk jalan. Tapi anehnya, saya lunglai. Enggak kuat jalan sama sekali, harus dipapah. Sementara darah udah menetes di lantai ruang bersalin. 

Aneh yang lain lagi adalah saya sama sekali enggak sanggup tidur. Saya hanya bisa duduk untuk nahan sakit kontraksi yang terjadi. Tiap kali rebah kepala, otomatis terangkat karena takut jatuh kalau tidur terlentang. Dokter koas dan bidan memegang perut saya, langsung dapat tepisan dari saya. Enggak sopan banget, enggak tau sakit apa??? Hehe

Berulang kali saya minta SC segera. Tetangga yang datang atas permintaan mama menyemangati untuk normal. Bidan mulai bosan dengerin keluhan saya. Belum lagi di ruangan itu orang-orang pada sewot, bikin saya makin stress dan makin yakin memilih jalan SC di tengah perasaan sedang meregang nyawa. Apalagi mengingat suami jauh di Kalimantan. Pikiran saya melayang seketika, berangan-angan. Gimana kalau ntar saya meninggal pas lagi melahirkan, minimal bayi kami selamat walaupun saya harus kehilangan nyawa. Karena di hadapan mata seolah-olah bayang-bayang kematian itu hadir siap menjemput saya. Belum lagi melihat di tangan bidan yang sudah menyediakan obat syntho. TIDAAAK, SAYA ENGGAK MAU DIINDUKSI! Akhirnya, bulat tekad saya untuk memilih SC untuk melahirkan. 

Ternyata harus mengantri, ada pasien yang sedang SC. Ayah menjadi wakil dari suami untuk mentandatangani surat perjanjian operasi. Sambil menunggu, saya diwajibkan melepas seluruh pakaian tanpa sehelai benang pun. Infus dipasang. Jujur, belum pernah sebelumnya saya merasakan diinfus dan dirawat di RS. Setelah usai, saya digiring ke ruang operasi. Namun tidak juga mulus, harus menunggu beberapa saat untuk para perawat dan dokter mempersiapkan alat operasi. 

Begitu masuk ruangnya, kepala saya langsung dibalut dengan penutup plastik. Perhiasan semuanya harus dilepas, lalu tangan dihubungkan dengan tensi meter otomatis untuk memantau tekanan darah. Di atas kepala terlihat lampu operasi. Ahli anestesi menyuruh saya untuk duduk tegak dan terasa ada sensasi dingin di punggung dan segera rasa sakit yang luar binasa tadi hilang seketika. Tubuh saya kembali terlentang. Setelah itu, kaki saya disentuh dan mereka bertanya masih merasakan atau tidak. Saat memastikan saya sudah tidak merasakan apa-apa dan entah apa yang mereka lakukan, proses operasi pun dimulai. 

Saya yang sadar mengintip dari batang lampu operasi saat perut dibelah. Lalu beberapa orang perawat mendorong perut saya dan taraaaa... Keluarlah bayi mungil merah yang langsung menangis walaupun terdengar masih ada air ketuban yang terperangkap di mulut karena belum dibersihkan. Dan saya sangat terkesima karena hanya lima menit saya proses itu berlangsung. Sophisticated! Selanjutnya saya dipersilakan untuk tidur selama penjahitan dilakukan. 

Ahh, itulah sekelumit kisah saat menghadapi proses melahirkan. Memang ngaruh ada dan tidak adanya suami di sisi terhadap kesiapan mental saat akan melahirkan. Apalagi saya sengaja tidak memberitahu suami perihal kontraksi yang saya alami karena takut meresahkan dirinya. Alhamdulillah, suami segera berangkat setelah mendapat kabar dari mama via hp ke Aceh. Bahkan ia tidak percaya malaikat kecil itu begitu cantik :D

 

Terlepas dari pengalaman ibu-ibu lain yang juga mengambil tindakan SC, saya sama sekali tidak mengalami keluhan bahkan setelah efek obat bius selesai tidak merasakan sakit pada bekas luka operasi. Mungkin berbeda perlakuan berbeda reaksinya. Apa karena saya juga orangnya kurus ya? Jadi tidak banyak keluhan pasca operasi. Kurang tahu juga! Satu hal lagi, saya selalu mensyukuri apapun yang telah saya jalani. Walaupun orang mengelu-elukan jalan normal, kalau ternyata kondisi seseorang mengharuskan operasi, apa salahnya? Kalau ternyata normal memberi resiko untuk diambil kenapa memaksa? Yang penting bayinya sehat dan selamat, apalagi lucu dan menggemaskan haha...

Saya bersyukur karena dokter mengatakan bahwa plasenta janin sudah menghitam alias post date. Enggak kebayang kalau normal seperti apa jadinya. Tapi yang saya yakini, semuanya sudah Allah yang mengatur :)

Jumat, 09 Mei 2014

9 Bulan Gak Haid, Hamilkah???

Setelah melahirkan setiap wanita pasti mengalami masa nifas. Saya melewati kurang dari 50 hari masa nifas. Tapi anehnya setelah itu hingga bayiku akan menginjak 10 bulan, haid belum kunjung tiba. Hati bertanya-tanya, hamilkah?

Memang sebulan setelah nifas usai keluar flek-flek darah saja. Tapi cuma sebentar. Sampai sekarang tidak pernah lagi muncul tanda-tanda akan haid. Cuma ya gak ngerasa hamil juga, sih. Perut juga tepos-tepos aja. Gak ada perubahan yang berarti yang menunjukkan kehamilan. 

Setelah bertanya sana sini, mendengar pendapat fulanah fulanah, ternyata wajar saja kalau setelah nifas haidnya datang lama. Ada yang bilang itu berarti bayinya kuat mimiknya, KB alami, ASI-nya banyak dan bagus, hormon, dan banyak lagi pendapat-pendapat lain. Tak jarang malah ada yang menyarankan untuk cek ke Obgyn untuk memastikan bahwa reproduksinya bagus-bagus aja. Memang selama ini belum pernah cek ke dokter, sih. Apalagi belum KB juga 😁

Walaupun keyakinan saya saat ini memang KB alami dari belum datangnya haid berjalan 100%, tetap aja ada kekhawatiran gimana kalau seandainya kebobolan. Melihat Nai yang masih begitu butuh perhatian penuh, masih ngerasa keteteran dalam mengasuh, fisik dan ruhiyah saya yang juga labil, saya putuskan untuk pasang KB tak lama lagi. 
Keputusan ini bukan karena menuruti ego pribadi, melainkan melihat sikon di lapangan semata-mata agar tidak ada yang terdzalimi serta dapat menjalankan amanah Allah untuk menyusui selama 2 tahun tergenapkan. 

Tidak dipungkiri kalau sebaiknya memang KB alami yang seharusnya diambil. Tapi namanya manusia, nafsi-nafsi. Toh kenyataan di lapangan banyak sekali yang mengaku kebobolan sehingga menghadapi banyak kesulitan dalam mengasuh anak. Apalagi jaman sekarang yang begitu banyak fitnah, gak kebayang deh ntar jaman 20 tahun ke depan kayak apa. 

Na'udzubillaahi min dzaalik. 

Kamis, 08 Mei 2014

Puasanya Ibu Menyusui

Melahirkan di bulan Ramadhan terasa ada berkah tersendiri. Apalagi lahirnya tepat tanggal 7 Ramadhan. Serasa tanggal keramat aja hehe. Melihat sosok mungil yang sebelumnya cuma bisa menerka-nerka rupa, kini bisa langsung ditatap dengan tampang yang tentu saja, speechless abis. Bahagia banget ampe terdiam seribu bahasa. 

Ternyata setelah menyadari bahwa membesarkan anak tidak semudah membalikkan telapak tangan, kini saya harus merasakan yang namanya ganti puasa yang jumlahnya sampai 23 hari. Apalagi, Ramadhan bakal datang akhir Juni. Itu artinya sebentar lagi. Aaaaarrrgghhh... Bukan Dek Ros namanya kalo enggak ganti puasa karena habis melahirkan!

Kebetulan Nai usianya sudah memasuki tujuh bulan, saya pun memutuskan untuk mengganti puasa. Kan udah mulai MPASI tuh dek Nai-nya. Jadi enggak ada alasan buat enggak puasa. Kalo alasannya kasian ntar mimiknya kurang, saya justru lebih takut untuk enggak yakin sama Allah yang jangan sampai sudah diamanahkan anak oleh-Nya malah meninggalkan kewajiban yang tidak ada uzurnya sedikitpun. 

Hari pertama ganti puasa gempor abis. Apalagi pake acara sahur cuma minum air teh hangat aja. Alhasil, bukan cuma diri sendiri yang enggak ada bedanya kayak orang yang lagi sekarat, bayi juga ikutan muntah deh. Bisa jadi karena kurang asupan jadi asinya aneh di lidahnya. Dari situ, jadi kapok deh kalo enggak sahur dulu pas mau puasa. 

Alhamdulillah insiden muntahnya cuma sekali itu aja. Di puasa-puasa selanjutnya Nai anteng kayak biasa. Tetap semangat dan berbahagia. Sampai hari ini, mudah-mudahan lolos ampe maghrib, dari 23 hari tersisa tinggal 14 hari lagi. Moga aja sebelum puasa Ramadhan tiba, saya udah lunasin hutang-hutang puasa ma Allah. 

Selama ini sih modal saya untuk ganti puasa cuma dengan komitmen untuk menyelesaikan. Soalnya kalo enggak komit dan memulai, udah pasti enggak bakalan keganti puasanya. Dan sebisa mungkin mengalokasikan tiap Senin dan Kamis rutin puasa. Biar ada keleluasaan Nai untuk mendapat asupan makanan lewat ASI selain makanan penunjang lainnya. 

Buat ibu-ibu menyusui, jangan sampai anak melalaikan kita dari ibadah wajib kepada Allah swt. Kalau puasanya masih ada yang bolong jangan tunda-tunda lagi, buruan ganti segera. Hutang sama Allah tu berat ganjarannya. Apalagi kalau secara fisik kita mampu, tidak ada alasan untuk membayar fidyah sebagai upaya menggantinya dengan puasa. Allah yang akan mencukupkan rezeki pada anak. Jadi enggak perlu khawatir anak kekurangan makanan saat kita sedang ganti puasa ;)

Jumat, 25 April 2014

Jangan Pernah Lepaskan Aku!

"Sudah berapa kali harus kubilang? Tinggalkan dia! Kamu saja yang masih ngeyel untuk tetap bertahan sama laki-laki tak tahu adat itu."

Chat dengan seorang teman laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah mantanku - lewat media sosial pun terngiang di pikiran. 

Dua bulan terakhir ini aku sering merasa galau. Sehingga aku mencari pelampiasan yang dapat menstabilkan emosi yang kian bertumpuk. Dalam rentang waktu yang sama suamiku kerap bersikap aneh. Entah karena sedang banyak masalah di kantor, bertengkar dengan bos, campur tangan keluarga, atau yang lebih buruk lagi mungkin ada orang ketiga. Entahlah. Yang jelas, aku tak pernah bertanya padanya. 

Sejak keanehan sikapnya terhadapku, ketakutan untuk memulai percakapan pun muncul. Padahal biasanya suaraku mendominasi di rumah. 

Sebagai istri yang fulltime mengurus rumah, mau tak mau aku butuh curhat tentang keseharianku. Apa yang telah terjadi, apa yang kurasakan, dan semuanya yang kulakukan. Itu hal yang sangat melegakan untuk menyalurkan emosi. Sayangnya momen yang kuharapkan hanya bertahan selama tiga bulan pertama pernikahan kami. Kini sudah lima bulan lebih ia mendiamkan aku. Terus terang, aku jadi tak betah. 

Sempat terpikir untuk pulang ke rumah orang tua, tapi aku bingung dengan alasan yang akan kuutarakan. Belum lagi ceramah yang akan kuterima dari mama, yang ada makin merembet kesana-sini. Ujung-ujungnya malah makin runyam. Jadi lebih baik kupendam saja masalah keluarga kecilku rapat-rapat. Mengadu pada mertua? Sama saja seperti melempar api dalam sekam. Posisiku benar-benar terhimpit. 

Jalan yang kutempuh adalah memutuskan untuk kembali aktif bereksis ria di dunia maya. Padahal sebelumnya aku sudah putus hubungan dengan media sosial karena ingin mengabdikan sepenuh jiwa ragaku untuk mengurus suami dan rumah. Aku tak ingin jadi korban perceraian rumah tangga yang sedang marak akhir-akhir ini. Namun di sisi lain,  aku tak bisa terus-menerus menyimpan sakit di hati seperti ini. Tak ingin sampai terajut luka dari sakit yang terlanjur hadir di dada.  Aku hanya ingin mendapat ketenangan batin. Ya, aku rasa itu bisa didapat dengan berbagi dengan orang lain lewat dunia maya. Akan ada banyak teman yang bisa menghiburku. 

Aku mulai memainkan jemari lewat seluler pintar sentuhku. Setengah tahun tak kuhiraukan, ternyata sudah banyak yang mengundang pertemanan denganku. Tapi, tunggu! Nama dan foto itu. Mengingatkanku pada seseorang yang pernah singgah di hati. Oh tidak, jantungku berdegub kencang saat kulihat profilnya. Ternyata benar, itu memang dia. Mantanku semasa SMA. Soni Guantheng Buanged. Ternyata dia masih alay, batinku. 

Tanpa pikir panjang, kuterima pertemanan darinya dengan tangan gemetar saking gembiranya. Desiran hati semakin menggebu saat kulihat ia mengirim pesan ke inbox. Katanya, sudah lama ia mencariku dan kangen. Sumpah, hatiku berbunga-bunga. Dalam sekejap saja segala masalah yang seolah menggunung lenyap seketika. 

Sony Guantheng Buanged: Nina, kamu masih ingat aku, kan? Kamu kemana aja? Aku kangen. 

Tanpa pikir panjang segera kubalas,

Nina Sigadis Ting Ting: Soooooon, kamu dimana??? Aku juga kangen...

Kutunggu balasan darinya, berharap ia sedang online. 

Satu menit. Dua menit. Lima menit. Huh, kemana sih dia? Hanya terkirim saja, ia belum membacanya. Sambil menikmati tontonan tv favorit sambil duduk santai di sofa, terdengar nada pesan masuk dari medsos messenger dari hpku. Segera kurampas hp dan kubuka pesan yang masuk. Dari dia. 

Sony Guantheng Buanged: Hai, Nina... 
Pakabar? 

Nina Sigadis Ting Ting: Baik, Son. 

Sony Guantheng Buanged: Enggak nyangka ketemu lagi meski di dumay :) 

Nina Sigadis Ting Ting: Iya rasa seabad enggak ketemu kamu

Sony Guantheng Buanged: Dimana sekarang? 
Sudah menikah?

Nina Sigadis Ting Ting: Aku enggak kemana-mana, Son
Disini-sini saja
Aku sudah menikah, Son. Kamu?

Lama ia membalas chatku. Sepertinya sedang berpikir atau malah kecewa. Hiks. 

Sony Guantheng Buanged: :)
Masih single. 

Entah bagaimana perasaanku saat ia katakan belum menikah. Menyesal, senang campur aduk. Di tengah peliknya suasana hati, berandai-andai terasa lebih menyenangkan. Ah, seandainya Sony bla bla bla. 

***

Percakapan di dunia maya antara kami berdua semakin intens. Awalnya berbincang ringan seputar aktivitasnya, meningkat jadi lebih perhatian, dan aku merasa kami semakin dekat. Hingga tiba di suatu titik di mana aku berani berkeluh kesah tentang situasi yang kuanggap 'masalah' di rumah. Memutuskan untuk curhat padanya karena aku butuh pelampiasan atas kekesalanku pada suami yang terasa semakin jauh dariku.

Sony menyambut baik keputusanku dan ia mau menampung segala muntahan kekesalan. Perhatiannya semakin membuatku candu. Tak bisa sehari tanpa sapaan darinya. Jalinan hubungan dengan mantanku itu membuat hidup ini kembali cerah. Kebahagiaan sesaat yang sangat kunikmati meski setiap suami pulang ke rumah, kembali serasa tinggal di neraka. Bahkan aku sampai memasang target. Seandainya sampai hari ulang tahunku yang tinggal seminggu lagi sikapnya masih seperti itu, maka anjuran Sony akan kuindahkan. 

Namun sungguh tak disangka-sangka. Sikap jutek suami ada maksudnya. Ia sengaja mendiamkanku karena ingin memberi kejutan tepat di hari ulang tahun. Aku terharu. Teramat sangat. Wanita mana yang tidak bahagia ketika suami mengajak ke taman rumah yang ia sengaja menyalakan lampu kerlap-kerlip bertuliskan 'Happy Birthday My Honey'. Perempuan mana yang tak kan senang ketika suami menyerahkan sertifikat rumah yang bertahtakan nama istrinya disana setelah selama ini tinggal di kontrakan yang kurang layak untuk pasangan pengantin baru seperti kami.  Dan aku pun menangis merangkul suamiku erat. Seerat yang kubisa. Aku menyesal. 

Ya, aku menyesal atas ulah bodoh yang selama ini kulakukan secara diam-diam. Di saat suami mendiamkanku, sebenarnya ia sedang merencanakan sesuatu yang indah untukku. Tapi yang kulakukan justru kebalikannya. Andai ia tahu. Tidak! Aku tak mau kehilangan suamiku tercinta hanya karena kecerobohan dan tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Yang membuatku gusar adalah bagaimana menghentikan Sony yang terus-menerus menghubungiku lewat medsos dan seluler. Bagaimanapun juga aku harus menghentikannya! 

Maka yang kulakukan adalah menonaktifkan akun medsos agar tak dapat diakses siapapun dan memblok nomor hp lelaki itu. Namanya yang semula tertulis sebagai 'Sony' segera kuganti dengan 'Sonya'. Berbohong demi menyelamatkan keutuhan rumah tangga lebih baik selama tidak terus-menerus kulanjutkan, menurutku. Lalu menghentikan sepenuhnya tindakan yang sudah terlanjur terjadi. Sungguh, berbuat hal yang tidak baik itu lebih meresahkan dibanding kata resah itu sendiri. Kapok. 

Setelah hari ulang tahunku dan hari-hari selanjutnya, rumah tangga kami kembali mesra. Hari-hari terasa lebih indah tanpa beban perasaan. Tak pernah lagi kutunggu sms maupun telepon dari Sony, apalagi chatting dengannya. Putus hubungan dengan medsos, putus hubungan dengan Sony. Tak ada lagi jejaknya sama sekali yang perlu kukhawatirkan. Aku benar-benar sudah melupakannya. 

"Sayang, maafin ya atas sikapku selama ini. Kamu memang istri yang sangat sabar. Beruntung aku memilikimu." Ucap suami yang membuat jantungku berdebar kencang. Teringat kesalahan yang lebih fatal akibatnya, jika terendus olehnya. Dalam situasi seperti ini, seharusnya aku yang harus berkata demikian. Tak terasa air mata pun menetes. 

"Sayang, sayang, a-ada apa? Mengapa kamu menangis? Maafkan aku!" Tanya pangeranku gelagapan melihat reaksi dariku. Khawatir telah menyakiti hatiku. Ia menduga aku masih menyimpan dendam karena pernah menyakiti hatiku. 

Aku menggelengkan kepala tanda tidak apa-apa. Kupandangi wajah suami lekat-lekat, tak kupedulikan air mata yang semakin berlinang. Guratan halus mulai terlihat dari hasil kerja kerasnya untuk menafkahiku. Oh, suamiku. Kau bukanlah sekedar manusia biasa, melainkan malaikat penjaga yang sengaja Allah kirimkan untukku, batin ini berseru. 

Kurangkul tubuh ringkih priaku seerat-eratnya. Bibir ini tak berhenti bertasbih, mensyukuri apa yang telah menjadi keputusan-Nya. Sungguh indah skenario-Nya yang masih menyayangiku dengan menutupi segala keburukan. Membuat diri ini berjanji untuk setia padanya sampai mati. Berkata dalam hati, "Tolong! jangan pernah lepaskan aku dari pelukanmu."

Selasa, 15 April 2014

(LAGI) Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Saya ingin mengupas karya Bang Tere yang lainnya. Suka banget dengan covernya yang bergambar daun. Cocok banget sama judulnya. Bukan hanya cover, isi bukunya juga bikin perasaan saya teraduk-aduk selama kurang dari 48 jam baca sampai habis. Memangnya gimana sih?

Khas Bang Tere banget, dia mendeskripsikan setting karakternya dengan sangat terlihat. Langsung kebayang! Padahal bahasa yang digunakan tu sederhana banget, gak muluk-muluk dengan diksi yang bikin pusing mikirnya. Gampang dimengerti dan jauh dari kata bertele-tele alias to the point. Alhasil, apapun yang dilihat sama si "Aku" disitu juga jelas sama kita pembacanya. Ya, di novelnya yang satu ini menggunakan sudut pandang orang pertama. 

Yang gak pernah ketinggalan adalah dialog-dialog andalan Bang Tere yang bener-bener jago mainin perasaan pembacanya. Saya tu sampai dibikin senang, kecewa, sedih, tertawa, sebal setengah mati dan juga meleleh keluar air mata. Lihai banget penulis yang satu ini dalam menulis cerita. Belum lagi penokohan atau karakter di dalamnya jelas banget. Kalau tokoh utamanya keras kepala, ntar ada tokoh yang baik budi, tapi gak ketinggalan pasti ada yang jenaka. Karakter masing-masing juga konsisten banget. Didukung sama dialognya yang memperjelas watak tokohnya. Bikin yang baca bertekuk lutut untuk penasaran baca terus. Ketagihan!

Yang punya nama asli Darwis ini juga kalau nulis seringkali mengusung kisah anak-anak yang latar belakangnya kurang beruntung. Namun karena tekad yang luar biasa mereka yang awalnya ditendang malah jadi disayang pada akhirnya. Prosesnya itu yang apik banget dikisahkan oleh penulis satu ini. Dan keliatan banget kalau beliau melakukan riset dulu sebelum nulis sehingga kita pembacanya juga menjiwai banget cerita dan terhadap tokohnya. 

Penasaran kan ama ceritanya?

Singkatnya sih ini kisah dua anak yatim yang harus hidup di rumah kardus di pinggir kota. Awalnya mereka hidup senang tanpa harus bekerja, namun nasib mengharuskan mereka mengamen dan meninggalkan sekolah semenjak ayah Tania dan Dede meninggal. 

Adalah Om Danar yang terpaut 16 tahun dengan Tania yang sangat ringan tangan membantu keluarga mereka. Menyekolahkan ia dan adiknya hingga memberikan uang bulanan kepada ibu mereka. 

Kisah cinta yang pelik ditorehkan dalam novel ini. Benar-benar pelik. Saya ampe gemes ngebayanginnya. Kesel sendiri ama tokohnya. Tapi yang menghibur adalah tokoh Dede yang jenaka lewat dialog-dialognya yang ketus tapi berbalut humor. 

Endingnya sama sekali enggak ketebak ama saya. Bener-bener menggemaskan haha. 

Intinya sebenarnya hanya bayangan Tania di masa enam tahun silam di sebuah toko buku yang memorable banget baginya. Hingga toko mau tutup dia bergegas menemui seseorang berharap menemukan jawaban atas teka-teki hidup dan cintanya.

A must have book deh!