Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2014

What Dad Means To You?

If you hear the word "Dad", what does it mean to you?

For me, he is a hidden angel as mom a seen angel. We sometimes only think or see that our mom is the only one who looks after us when we were kids. While dad, he just cares us when we get sick. He brought us to the hospital. He is the boss, the one who earns money, and spare his limited time to play with us. 

But, have we ever thought what is actually in Dad's mind? 

He is the one who feels guilty when we are ill because he cannot pay his attention to us 24 hours like mom does. For the sake of his family, he's willing to sacrify his body and soul in the name of happiness. From the deep of his heart, he always thinks about us 24/7. Never stop thinking. That's why sometimes he gets angry at us when his expectation to us is out of his mind. It doesn't mean he doesn't love you! The more he angry, the more he loves you actually. 

When Dad feels so sad? The answer could be: when his daughters have to live with strangers (red; husband) in which they just know from outter look. Who takes his former little baby and build a new family like he does/did. "Can he take care of my cute girl like I did? Will he make my daughter happy?" That might be crossed his mind. 

Everybody needs the figure of their Father. Don't hate him if he cannot be a good father for you. Everything must be a reason why. Let the time answers unless you cannot get it directly. Time will answers everything about your life. 

For you who have a brilliant father, as long as they live, please!!! Do the best for him. Without Dad, there will never be a half of his genetics in our body. No way! There will never be a word "Dad" of a "father" as we recognize it. Do as many positive things as you can for him. Before you regret in a life time. 

From now on, don't hesitate to say "I Love You, Dad".

That is Dad means to me. What Dad means to you?

Sabtu, 08 Februari 2014

Teknologi VS Peradaban Manusia

Saya tertarik untuk membahas judul ini karena erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Sadar atau tidak, seringkali kita jarang memikirkan hal-hal yang sederhana. Bahkan mungkin menurut sebagian orang, tidak perlu dipikirkan.

Bicara soal teknologi, di era maju seperti sekarang ini bukanlah hal baru. Tidak seperti jaman dulu, tidak semua orang mampu mengakses produk-produk teknologi. Untuk masa sekarang, teknologi tidak hanya mempermudah aktivitas seseorang. Namun lebih dari itu, sudah menjadi kebutuhan dan harus ada. Tidak boleh tidak. Malah ada yang menjadi ketergantungan. 

Mari kita analisa bersama-sama. 

Jika kita melihat generasi saat ini, rata-rata pasti memiliki gadget. Berapa pun harganya, apapun merknya. Dari sekian banyak aktivitas yang menjadi prioritas untuk diselesaikan, seringkali kita nomor duakan jika sudah bersanding dengan jenis teknologi yang satu ini. Fitur-fitur unik, update versi terbaru, aplikasi-aplikasi menarik yang disediakan oleh developer software di dalam gadget, kerapkali membuai penggunanya. Bahkan tidak sedikit yang rela merogoh kocek, berlomba-lomba menjadi yang pertama merasakan kecanggihan gadget terbaru. Begitu pula dengan jenis teknologi lainnya. 

Dilihat dari dampak, tentu ada positif dan negatifnya. Positifnya adalah jarak bukan lagi penghalang. Kalau dulu untuk memberi kabar saja susah sekali, harus melalui surat atau perantara orang lain. Lihat saja sekarang, selama sinyal terang-benderang berada di ujung belahan bumi manapun komunikasi tetap bisa dilakukan. Belum lagi teknologi 'video call' di area 3G, tatap muka hanya dalam hitungan detik saja setelah tersambung. Selain itu, dalam kondisi darurat, teknologi sangat membantu agar pertolongan segera datang. Dan yang paling jelas sekali adalah portable alias bisa dibawa kemana saja. Praktis. Teknologi juga dapat meningkatkan produktivitas kerja, terutama yang aktivitasnya secara langsung membutuhkan alat tersebut agar selesai tepat waktu. Dunia juga terasa kecil karena informasi begitu mudah diperoleh secara online dari seluruh penjuru dunia. Bahkan tidak sedikit yang tersambung kembali tali silaturrahim yang sempat terputus serta mendapatkan jodoh lewat media teknologi. 

Negatifnya adalah membuat manusia cenderung menjadi anti sosial. Menjadikan tatap muka tidak praktis. Bahkan dengan tetangga yang dekat saja tidak tentu setiap hari ketemunya. Dunia maya lebih menarik daripada dunia nyata. Pengaruh yang lain adalah merebaknya kejahatan dan penipuan seperti yang sering kita dapati di berita TV maupun surat kabar. Penculikan, perkosaan, pelecehan acapkali bermula dari penyalahgunaan teknologi. Bahkan korban teknologi tidak dibatasi umur. Dari usia belia hingga yang sudah berumur. Dan masih banyak lagi daftar negatif lainnya untuk dibahas. 

Terlepas dari itu semua, sebenarnya tidak adil juga jika menyalahkan teknologi. Karena secara logika kemudahan ini diciptakan untuk membantu umat manusia. Yang patut disalahkan adalah penggunanya. Hal negatif justru terkuak ketika seseorang menyalahgunakan. Jadi kendali dari pemakaiannya ada pada tangan-tangan manusia itu sendiri. 

Pepatah mengatakan,"Tempatkan sesuatu pada tempatnya". Menurut saya ini juga berlaku dalam menyikapi penggunaan teknologi. Jangan sampai kita dikendalikan olehnya. Justru, kitalah yang harus mengendalikan teknologi. 


Kamis, 23 Januari 2014

PLAGIAT = MENCURI

Saya yakin, di sekolah kita diajarkan untuk menghargai hasil karya orang lain, bukan sebaliknya.

Saya yakin, siapapun akan marah ketika hal yang kita miliki dicuri bahkan dijadikan komersil oleh orang lain tanpa sepengetahuan kita.

Bicara soal hak cipta, ada kaitannya dengan nilai keunikan dari produk yang dihasilkan oleh setiap orang. Dan dari nilai itu ada harga yang harus dibayarkan. Apakah harus selalu berupa barang? Tidak. Bahkan ide sekalipun memiliki harga yang sangat tinggi. Karena produk tercipta berawal dari sebuah ide. 

Bayangkan, jika saya plagiat karya yang dijadikan usaha oleh seseorang, di mana usaha tersebut adalah sumber penghasilan tunggal bagi keluarganya! Lalu tanpa merasa bersalah menduplikat hasil karyanya lantas menjualnya dengan harga lebih murah. Zalim sekali saya!!! 

Dari pengalaman teman saya yang berkuliah di salah satu universitas negeri di Australia. Disana, laporan atau tugas essay tidak begitu saja dapat langsung dikirimkan ke email dosen, tapi disaring terlebih dahulu oleh suatu alat pendeteksi yang sudah disediakan oleh universitas secara online untuk mengetahui adanya tindak plagiat. Jika tingkat plagiat tulisan yang terdeteksi diatas 20%, maka mahasiswa/i akan didenda sebesar AUD $ 500. Begitu besarnya penghargaan mereka terhadap hasil pikiran orang lain.

Saya berani katakan plagiat atau biasa disebut menjiplak atau menduplikat adalah tindakan kriminal. Menurut saya, tiap orang itu diciptakan unik alias berbeda-beda oleh Allah. Bahkan sidik jari dari tiap orang tidak ada yang sama. Apalagi isi di dalam kepala manusia. Sudah sepatutnya kita mengembangkan potensi alamiah dalam diri kita bukan sekedar "copy and paste" semata. 

Jika ingin tidak disebut sebagai plagiator, maka minta izin terlebih dahulu dari empunya produk. Ada royalti yang menjadi hak penemunya. Kalau berupa tulisan, maka cantumkan sumbernya atau menggubahnya dengan bahasa kita sendiri. Semua itu ada kode etiknya, perlu diketahui supaya tidak ada yang dirugikan.

Semoga kita semua menjadi orang yang mampu mengoptimalkan kemampuan diri kita sebagai bentuk penghargaan terhadap diri kita sendiri. Selanjutnya, akan mudah sekali untuk menghargai karya orang lain. Tidak hanya berpikir dari segi materinya saja, tetapi juga nilai keunikan yang punya hak paten didalamnya.