Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Desember 2014

Desember Deg-degan

Gak kerasa ya waktu terlalu cepat berputar. Kaget juga pas ngeliat postingan terakhir di blog sekitar Mei kemarin. Udah lama banget gak nulis blog lagi... Hohoho. Kayaknya mesti lebih konsisten lagi deh update tulisan biar gak kudet ama waktu hehe

Btw, penghujung tahun ini bener-bener bulan yang bikin deg-degan banget, bloggers. Bayangin aja, pengumuman hasil Tes Kemampuan Dasar dari seleksi CPNS 2014 Provinsi Kalimantan Timur dilakukan bulan ini. Trus jadwal perjalanan suami yang padat n akunya yang pengen mudik karena ortu mau umrah bikin jebol tabungan. Alhasil tagihan membengkak n sisa duit buat bulan ini bener2 di red alert deh. 

Belum lagi gosip-gosip yang beredar bahwa Januari 2015 ntar bakal ada mutasi besar-besaran untuk karyawan. Mending ntar klo suami pindahnya ke Sumatera atau minimal Sanga-sanga yg masih Kaltim juga. Gimana kalo mutasinya malah ke Sorong, Papua??? Masih mending lah Sorong. Kalo Klamono??? Ooh tidaak... Bener2 bulan deg-degan deh Desember ini. 

Apa harus minum es degan kali ya biar bisa menormalkan perasaan? Emang lagi haus aja tu, alesan doang hehe...

Tapi ya, memang hari esok tu rahasia banget. Gak ada yang tau. Mau nanya ke orang pintar sekalipun gak kan bisa menyamai gimana esok bakal terjadi. Yaaa... Hanya Allah lah Yang Maha Tahu :)

Sabtu, 12 April 2014

Dua Lembar Biru Penyelamat

Bangun pagi tadi suami ngajakin ke kota karena ada rapat dengan vendornya. Sekalian belanja, pikirku. Ia mengingatkan pukul sepuluh teng harus sudah siap berangkat. Oke, jawabku. 

Bayi sudah selesai kudandani. Aku dan suami juga siap untuk berangkat. Ada yang belum ternyata. Dompet. Aku ingat tadi pagi sudah memasukkan sejumlah uang ke dalamnya. Langsung masuk kamar untuk mengambilnya dan kuletakkan di atas meja terlebih dahulu. Ada hpku yang bersanding dengan dompet warna putih itu. 

Sementara aku ke kamar mengambil kaos kaki, suami sudah menuju mobil bersama bayi kami tercinta. Cepat-cepat kuambil hp karena dompet sudah tak terlihat di antara tumpukan benda-benda di meja. Pasti suami sudah mengamankannya. Sebelumnya aku sempat mengambil lagi seratus ribu, takut uangnya kurang karena harus belanja untuk bekal satu minggu ke depan. 

Masuk mobil kutanya suami,"Bang, dompet adek udah abang ambil?", dengan segera ia jawab,"Udah nih," sambil menyentuh saku belakang celananya. Bayi kurangkul dan suami langsung tancap gas. 

Setelah rapat selesai, tiba waktunya untuk makan siang. Lumayan bosan menunggu di dalam mobil, walaupun sempat foto selfie bersama bayi sebagai selingan saat memberinya makan. 

"Ayo kita ke Town Hall, makan siang disana," ajak suami. 

"Haayuuk... Siapa takut?" Jawabku ngasal.

Tiba disana aku memesan soto ayam dan jeruk hangat. Pas untuk cuaca yang sedikit mendung, menurutku. Sementara suami memesan mie ayam dan es kelapa muda. Tidak pas sama sekali dengan cuaca yang juga sedikit dingin. Sebelum diantar, suami yang sudah kutitip uang seratus ribu di kantongnya membeli risoles untuk makanan pembuka. 

Setelah makanan dan minuman raib dari wadahnya, kami memutuskan untuk pulang. Sebelumnya kupastikan dahulu apa pesanannya sudah dibayar atau belum karena dompetku dipegang oleh suami dan ia yang memesankan. 

"Pesanan ini udah abang bayar, belum?" 

"Belum." Lantas suamiku menggendong bayi kami. 

"Yaudah sini dompet adek biar adek bayar," pintaku. Tak disangka wajah panik yang kemudian tergambar dari wajah suamiku. 

"Loh, koq sama abang? Enggak ada di abang. Dompet abang enggak ada duitnya," jawabnya setengah panik sambil menyentuh saku belakang, sementara tangan satunya menyangga pantat bayi kami. Lalu sadar dari dua lembar lima puluh ribuan yang telah dibelikan risoles, sisanya diserahkan padaku. Tersisa tujuh puluh ribu. Uang pun berpindah tangan padaku. 

"Lah, tadi sebelum berangkat kan udah adek tanya ma abang katanya udah abang ambil. Gimana, sih?" Kami masih berdebat sambil melangkahkan kaki menuju warung makan pesanan kami. 

"Abang kira tadi adek nanya dompet abang. Yaudah bayar aja dulu, kalau kurang ambil atm ntar." Suamiku nyengir kuda sambil pasang tampang innocent. 

Untungnya, kami makan bukan di tempat biasanya. Harga di Town Hall memang miring dan hanya menghabiskan Rp 42.000 saja dari pesanan kami berdua. Aku ingat sekali ketika membayar di tiga tempat yang berbeda. Aku seperti menanyakan mau angpao berapa pada tiga orang penjual dari warung yang berbeda. Sampai tahan nafas berharap uangnya cukup untuk membayar. Bahkan saat menuju mobil sempat-sempatnya kami saling menyalahkan sambil tertawa-tawa seperti orang gila. Sementara bayi kami yang tak tahu apa-apa hanya bisa menyaksikan tingkah konyol kedua orang tuanya. Ada-ada saja. 

Tapi ada hikmah besar yang menjadi pelajaran dari kejadian ini. Entah ada angin apa yang menggerakkanku untuk mengambil dua lembar lima puluh ribu dari amplop "rahasia". Dan memang tinggal segitu lagi uang di dalamnya. Dua lembar inilah yang menyelamatkan kami dari transaksi yang nyaris berakhir dengan malu tadi. Lain kali tidak mau lagi terulang kembali tragedi dompet yang konyol ini. 




Selasa, 01 April 2014

(GIVEAWAY) Ayah, Sang Pendongeng yang Piawai

Cover Kumpulan Dongeng Anak Karya Hastira Soekardi


Ngomong-ngomong soal dongeng, hal pertama kali yang terlintas di benak saya adalah masa kecil. Setiap habis maghrib sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga untuk berkumpul di kamar Mama dan Ayah. Sambil menunggu waktu makan malam, biasanya Ayah mendongeng terlebih dahulu sesuai request. Saking banyaknya koleksi dongeng yang mampu diingat olehnya.

Kadang suka ketawa sendiri mengingat masa kecil dulu. Senang sekali jika waktu berkumpul sudah tiba karena dongeng time itu yang ditunggu-tunggu sebenarnya. Penasaran dengan cerita-cerita yang akan Ayah kisahkan karena beliau piawai sekali dalam mendongeng. Antusias sekali untuk mendengarkan beliau, terutama suara-suara yang berbeda agar tokoh yang dikisahkan terdengar kentara.

Seringkali saya dan adik-adik berebutan untuk didongengkan. Kisah andalan Ayah antara lain; cerita para Nabi dan Rasul dari Adam as hingga Rasulullah saw, si kancil dan buaya, Gareng dan Petruk, termasuk dongeng karangan ayah sendiri. 

Tanpa disadari, banyak nilai dan manfaat yang didapat ketika mendengarkan dongeng. Tidak hanya menstimulus kemampuan berimajinasi dari sebuah kisah, tetapi juga membangun daya pikir lewat pertanyaan-pertanyaan yang timbul terhadap tokoh maupun latar ceritanya. Penasaran pun timbul untuk mengetahui kelanjutan ceritanya, walaupun sudah berulang kali kisah yang sama diceritakan. Hal yang sangat signifikan terasa hingga saat ini adalah tumbuhnya wawasan dan nilai agama pada diri sehingga lebih religius dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dongeng yang Ayah ceritakan menginspirasi saya untuk menulis. 

Sejak usia Sekolah Dasar (SD) saya suka sekali menulis curhatan singkat. Apa yang sudah terjadi hari itu dan apa yang saya rasakan. Hingga untuk pertama kalinya saya memiliki diary saat menginjak bangku SMP dan mulai menuliskan segala hal disana. Namun, mengisahkan tentang cerita anak bermula dari keikutsertaan dalam event menulis dari salah satu penerbit. Bersyukur sekali karena cerita saya terpilih untuk dijadikan salah satu antologi dalam buku kumpulan cerita anak. 

Antologi cernak saya berjudul "Janji Lara", mengisahkan seorang anak perempuan bernama Lara yang lebih memilih bermain games di PSP daripada mengaji di surau. Dalam tulisan tersebut, saya menonjolkan kekuatan mimpi yang mengarahkan pada pilihan yang harus diambil Lara dari sikapnya, serta manfaat jika ia rajin mengaji. Selain itu, dialog Lara dengan ibunya memuat nilai moral bahwa seorang anak hendaklah menuruti perintah orang tua. Saya juga punya harapan, melalui antologi saya ini kelak bayi saya dapat merasakan pula manfaatnya.

Meskipun anak saya masih bayi, sesekali saya menyuarakan apa yang sedang saya baca dan menunjukkan padanya bacaan tersebut. Kelihatannya tipe anak saya audio karena senang mendengar bunyi-bunyian. Hal ini membuat saya tidak sabar supaya ia cepat besar. Agar bisa mengikuti jejak Ayah untuk menceritakan puluhan hingga ratusan dongeng padanya. Ingin melihat seberapa antusias ia mendengarkan, sejauh apa rasa penasaran yang tumbuh, seterang apa binaran di matanya saat saya menceritakan dongeng padanya seperti yang Ayah lakukan dulu. Sekaligus membuktikan sepiawai apa kemampuan mendongeng saya nantinya. Semoga bisa seperti Ayah. mamahtira
 

Selasa, 25 Maret 2014

Kini Kumengerti, Mama!

Dulu ketika masih sendiri, banyak sekali teman-teman bilang kalau aku sangat ekspresif. Bila berbicara mataku berbinar-binar, menyiratkan semangat yang mampu menularkan ke lawan bicara. 

Begitu pula setiap kali aku berbicara dengan mama. Aku yang lebih sering menghabiskan waktu di sekolah ketimbang di rumah selalu memberi laporan kegiatan-kegiatanku padanya. Mama sungguh pendengar yang paling baik. 

Hingga saatnya aku kuliah, pun jauh dari tanah kelahiran. Bisa kupastikan waktuku habis hanya untuk memikirkan urusan sekolah dan diriku saja. Pulang hanya saat lebaran Idul Fitri atau libur semester genap. Aku harus memilih salah satu dari kedua waktu tersebut. 

Mama benar-benar sudah memperhitungkan kematangan usiaku untuk bisa diajak curhat olehnya. Diluar dugaanku selama ini yang berpikir betapa idealnya keadaan rumah tangga yang sudah terbina lebih dari 20 tahun itu. Tak pernah kulihat pertengkaran maupun masalah diantara mereka. Ternyata aku salah! Mereka selama itu tidak baik-baik saja. Namun aku bersyukur mereka tetap bertahan. Hebatnya mereka mampu menutup rapat-rapat masalah yang terjadi pada kami, anak-anaknya.

Hari indah itu datang. Akhirnya sang pangeran berkuda putih datang menjemput. Tidak tanggung-tanggung, ia membawa jauh diriku dari orang tuaku dan juga orang tuanya. Kami hidup berdua jauh di perantauan. Saat itu, yang aku pikirkan adalah hidup bersama orang terkasih itu akan sangat membahagiakan.

Hari-hari berdua pun kami lalui. Pacaran setelah menikah pun kami jalani. Benar-benar pacaran. Kami sama-sama belajar mengenali karakter masing-masing dan mengelola rumah tangga. Di tengah kebahagiaan yang kami rasakan tentu ada juga masa-masa sulit. Kujadikan setiap masalah yang muncul sebagai sebuah tantangan untuk segera diselesaikan. Ibarat perahu, aku harus mengendalikan kemudinya semaksimal mungkin jika tidak ingin karam diterjang badai. 

Dan aku selalu teringat akan dirimu, Mama! Mungkin mama berpikir jika anak sulung dan wanita satu-satunya ini jarang mengingatmu karena jarang menelepon? Tidak, Ma! Setiap bulir darah yang mengalir di tubuh ini menjadi saksi bahwa di hatiku namamu selalu terpatri. Seperti ini juakah yang mama rasakan selama ini? Sakit. Gembira. Kecewa. Bahagia. Terus berputar mempermainkan jiwa dan perasaan. Datang silih berganti. Namun kami masih bisa melalui badai dan ombak yang datang. 

Malaikat kecil kami pun lahir ke dunia. Kebahagiaan lain yang kurasakan. Mungkin setelah ini kesenangan yang kuimpikan terus abadi itu akan datang. Ternyata tidak! Ada saja cobaan demi cobaan yang datang. Kadang aku berpikir, bodoh sekali aku yang terlalu mengedepankan perasaan dibanding logika. Yang ada capek hati saja! Enak sekali menjadi lelaki, pikirku. 

Tapi sisi lain hatiku meredamnya saat aku memilih untuk mengingat mama dan ibu mertua. Mereka juga pasti terlebih dahulu merasakannya. Pahit getir yang lebih menghujam yang seringkali menyiksa. Namun mereka sudah berhasil melaluinya setelah berdamai dengan hati masing-masing. Mereka juga memilih untuk mengorbankan perasaan demi keutuhan rumah tangga. Ya, mama pernah bilang padaku bahwa setiap kelahiran anak maka cobaan juga berdatangan. Dulu aku tidak menanggapinya, tapi sekarang kualami sendiri. Kadang ingin curhat, tapi terlanjur malu dan tidak patut saja. Biarlah kemesraan saja yang mereka tahu. Seperti yang sudah mereka lakukan. 

Seorang teman mengunjungiku untuk melihat bayi perempuan kami yang masih merah. Karena ia belum juga menikah, akupun menyindir halus dirinya. Kupikir ia akan menjawab dengan alasan klise. Sangat mengagetkan mendengar jawaban darinya. 
"Jika pun ada yang mau denganku, mungkin jalinan itu tak kan lama. Kau tahu sekali aku orangnya bagaimana, kan? Lagipula matamu yang dulu berbinar-binar saat berbicara, kini tampak redup. Apa karena sering begadang? Kurasa tidak."

Terus terang, sempat terperanjat ketika kudengar paparannya yang disampaikan sesantai mungkin. Hasil analisa yang teliti dan mungkin ada benarnya. Bahkan tak terpikir olehku sebelumnya. 

Perkataannya mengingatkanku akan raut wajah mama yang mulai bergaris disana-sini. Mata itu. Mata yang kuyakin dulu juga berbinar dari segudang prestasi yang ia ceritakan padaku. Yang membakar semangat untuk bisa melebihinya sampai aku berhasil. Yang bersedia mendengarkan segala hal tentangku, yang setia menemaniku kala sedih dan senang, dan masih banyak lagi.

Terlambat! Kemana saja aku selama ini? Bahkan awal mula binaran itu meredup pun aku tak tahu. Keluh kesahnya tak pernah kutanya. Aku hanya sibuk dengan urusanku sendiri hingga seringkali tak bisa berbuat lebih untuk orang yang telah melahirkanku. Atau ini karma? Karena hampir tak ada waktu yang kuluangkan untuk kedua orang tuaku sehingga semua ini ditimpakan kepadaku? 

Kini aku paham maksudmu, Ma! Aku paham apa yang engkau rasakan selama ini. Aku mengerti mengapa sikap itu yang kau ambil ketika menghadapi Ayah. Aku percaya semua nasihatmu menjelang pernikahanku dulu. Tapi aku terlambat untuk memperoleh ilmunya. Aku justru harus setiap detik mempelajarinya karena ilmu dalam rumah tangga terus bertambah. Hanya saja itu semua tergantung padaku. Mau kupelajari atau tidak!  

Satu hal yang dapat kukatakan. Rumah tangga yang selalu bahagia hanya kau dapatkan di sinetron saja dan skenarionya diciptakan sendiri. Berbeda dengan skenario Allah, sesulit apapun kau membina rumah tangga selalu ada maksud dari-Nya. Kini kumengerti, Ma!

Senin, 24 Maret 2014

Rasa Yang Tak Seharusnya

Aku tahu ini salah! Pun jua tidak sepenuhnya salahku bila rasa ini hadir. Ia datang begitu saja tanpa diundang ke relung hati yang memberi sedikit ruang untuknya. Ah, atau aku salah menafsirkan perasaanku?

"How are you, pretty girl?" tanya Ben tersenyum yang hampir setiap menit menanyakan soal yang sama. Retoris. Namun anehnya, aku suka sekali ditanya terus walaupun diulangi ribuan kali setiap hari. 
"I'm fine. And you?" tak jemu kusambut dengan jawaban serupa, kendati kuucapkan berulang-ulang kali padanya. Tak lupa senyuman manis sebagai pengganti ucapan "Jangan bosan untuk terus bertanya kabarku" padanya. 

Hubunganku dengan Ben tak lebih dari seorang peneliti to be dengan peneliti senior. Ia berkebangsaan Kanada yang sedang meneliti tentang herpetofauna di Indonesia. Sementara dosen pembimbingku yang notabene adalah koleganya, memintaku untuk menjadi penerjemah selama di lapangan sekaligus mengumpulkan data untuk keperluan skripsi. 

Ben tak sendiri. Ada beberapa rekan peneliti lain yang ikut. Namun, hanya dia yang suka mengajakku bercanda. Hanya dia yang suka mengambil fotoku yang tanpa ekspresi. Hanya dia yang bisa membuatku merasakan 'rasa'. Hanya ia yang bisa membuat waktu dua bulan di lapangan tidak terasa lama.

Hingga suatu hari, ia menunjukkan foto-foto dari laptop. Banyak foto-fotoku disana. Ah, hatiku berdesir dan senang tak terkira. Bagaimana rasanya diistimewakan? Ya, begitulah yang terasa saat melihat foto-foto wajahku di layar 14 inch milik Ben. Dapat kupastikan setengahnya dari album yang ia perlihatkan adalah gambar-gambarku. Selebihnya berupa spesies-spesies dari hewan amfibi dan reptil hasil jepretannya di lapangan. Huh, jangan-jangan ia menyamakan wajahku dengan mereka, batinku berbisik. 

Belum puas kunikmati kebahagiaan di hati, senyumku sontak berubah sedatar mungkin saat gambar terakhir terlihat di layar. 
"Sorry, that's my ex-wife."
Ia duda!

Setelah penelitian usai, Ben dan beberapa rekan lain kembali ke Canada. Sementara dua rekan yang masih di Indonesia harus mengurus spesimen hewan di laboratorium jurusan Biologi kampusku. Salah satu dari mereka yang bernama Jim berkata,"Ben said something to me about you."
"What's that?" tiba-tiba degub jantungku kencang, tak mampu kukendalikan. Aku tak sabar mendengar apa yang hendak diutarakan Jim. Sungguh hari-hariku terasa hambar tanpa pertanyaan retoris dari Ben. Aku merindukannya.
"You are the most beautiful girl that he ever spoke to!"

Nafasku tertahan sesaat. Masih dengan debaran yang makin tak keruan, ditambah lagi desiran hati yang membuatku nyaris kaku. Ingin rasanya aku berteriak saat itu. Andaikan Ben disini saat ini!

Oh, Ben. Sadis sekali caramu menghujamkan panah asmara dari Canada sana ke hatiku. Kau memang romantis, Ben. Namun, semanis apapun kata yang terlontar hanya akan memperparah rasaku saat ini. Ya Ben, 'rasa' yang tak seharusnya hinggap di hatiku. Aku sudah punya kekasih! (http://www.lovrinz.com/)

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Keping Hati


Kamis, 20 Maret 2014

Dunia: neraka bagi si Kafir, surga bagi yang Mukmin

Wah apa ni maksudnya judul tulisan koq kayak gitu?

Tidak bermaksud menyudutkan orang kafir maupun orang mukmin. Bahkan saya sendiri tidak tahu apakah Allah menilai diri saya sebagai seorang kufur atau beriman. 

Sebagaimana lagu Nike Ardila yang bersyair "dunia ini panggung sandiwara", bukan sekadar isapan jempol belaka. Ternyata sudah tertuang sejak 1.400 tahun yang lalu dalam Alquran. Dunia ini penuh dengan permainan dan senda gurau kata-Nya.

Hari ini kita ketawa ngakak sampai sakit perut, eh tidak lama kemudian kita menangis sesenggukan. Baru sebentar merasakan secercah harapan enggak tahunya harus menelan pahit kekecewaan setelahnya. Detik ini kita masih merasa aman dari keadaan, ternyata saat berhijrah ke suatu tempat situasi mencekam di depan mata tidak terhindarkan. Berlaku sebaliknya, seperti senda gurau.

Belum lagi si pecinta dunia, mudahnya ia terlena dengan gemerlapnya yang fana. Kesenangan sesaat di atas meja judi, kenikmatan bujuk rayu setan dari kehidupan malam yang kelam, pelampiasan kekecewaan dengan narkotika. Segala bentuk kepalsuan yang menggiurkan si pengikut hawa nafsu untuk diikuti. Bahkan ia juga takut mati dan kehabisan harta benda. Termasuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang disebut sebagai 'keuntungan' olehnya. 

Namun bagi mereka yang lain, dunia itu sangat menyengsarakan. Bukan karena harta, tahta, wanita dan anak-anak. Melainkan kehidupan setelahnya. Yang hatinya rindu untuk dapat menatap-Nya. Yang hatinya sabar ketika cobaan ditimpakan. Yang akalnya menerima dan dapat melihat hidayah-Nya. Yang mencintai-Nya dalam segala bentuk kepatuhan. Akan tetapi hanya ia dan Allah saja yang mengetahuinya. 

Ternyata, dibalik kehidupan kita saat ini ada tangan-Nya yang berkehendak. Skenario hidup yang kita jalani telah tertulis di Lauh Mahfudz. Bahkan yang menggegerkan adalah Ia sudah menentukan siapa yang akan ke surga-Nya dan siapa ke neraka-Nya. Yang telah Rasulullah saksikan saat Beliau mikraj ke Sidratul Muntaha. Termasuk kemanakah kita nanti?

Dunia. Yakinkah saat ini kita benar-benar hidup? Atau sebenarnya kita sedang tidur? Dan akan benar-benar terjaga ketika sudah berada di dalam ruang tersempit yang bernama tanah? Berbalut kain kafan yang jauh dari modis. Mungkin, hidup kita saat ini adalah mimpi? Dan kita baru sadar sebenarnya hidup hanyalah beberapa jam saja? 

Saya rasa muhasabah saya hari ini cukup sekian. Besok dan seterusnya ini jadi pegangan untuk setiap keputusan-keputusan selama bernafas di dunia. Selalu bertanya dalam diri, apakah dunia menjadi surga atau neraka bagi saya yang kerdil ini. 

Jumat, 14 Maret 2014

Abadikan Hidupmu Lewat Tulisan

Wah, ternyata agar produktif untuk menulis itu susah juga ya...

Memang sih beberapa hari ini saya sedang konsen menulis sebuah novel. Deadlinenya 31 Maret ini memang. Gak tau juga bakal terkejar apa gak. Bayangin aja, target tulisannya tu 200-250 halaman bowk! Sementara sekarang tulisan saya baru 13 halaman. Hiks. Bahkan belum juga masuk ke cerita intinya. 

Wakwaw!!!

Saya mendapat pelajaran dengan menekuni menulis. Alhamdulillah dari dua kali ikutan event lomba, dua karya saya masuk sebagai kontributor untuk dijadikan antologi dalam buku cerpen anak dan cerpen bertajuk hujan. Sementara yang cerpen hujan sedang menunggu antri untuk dicetak, cerpen anak akan terbit bulan April in syaa Allaah. 

Sumpah! Gak nyangka dan gak percaya pas baca pengumumannya. Sebagai penulis pemula saya gak punya target untuk jadi pemenang. Lebih tepatnya ingin coba-coba aja. Kaget campur bahagia ketika nama saya tercantum di urutan ke-11 untuk cerpen anak dari 29 peserta yang terpilih. Menempati urutan ke-6 untuk cerpen bertema "Cinta Dibalik Hujan" dari 15 kontributor di buku #1. Jadi cerpen hujan ini sendiri ada 3 buku yang diterbitkan. Total kontributornya ada 45 orang. 

Kedua cerpen ini memiliki proses yang berbeda. Sangat menggelikan kalau diingat. Untuk cerpen anak awalnya saya posting dulu di grup FB komunitas bisa menulis. Ternyata banyak yang baca dan memberikan kritik dari yang mendukung, bilang bagus, memberi saran membangun hingga kritikan pedas dan cenderung menjatuhkan. Gimana gak, katanya cerpen saya itu bertele2, gak akan masuk nominasi kalaupun diikutkan. Dan yang lebih ekstrim lagi adalah mending gak usah dikirim sekalian. Gak akan lolos, katanya. 

Alhamdulillah, kritikan itu gak saya dengar. Berhubung saya berniat ingin menerapkan ilmu yang saya dapat dari grup KBM tersebut, jadi saya menuruti saran2 membangun. Dan hasilnya ternyata melampaui prediksi saya sendiri. 

Nah, untuk cerpen bertajuk hujan beda lagi ceritanya. Lain halnya dengan cerpen anak yang memberikan waktu lebih leluasa untuk merombaknya, kalau yang ini malah enggak sempat baca lagi sebelum saya kirim. Bener2 mepet waktunya dari deadline. Soalnya 15 menit lagi ditutup dan tidak diterima lagi lebih dari itu. 

Info eventnya saja saya terima kurang dari 24 jam sebelum deadline. Belum lagi saya harus bisa bagi waktu antara ngurus bayi, bersih2 rumah dan menulis. Alhasil, saya baru sempat menulis dengan konsen setelah maghrib karena bayi saya tidur. Godaan lainnya adalah bayi yang tidak mulus bobonya, suka kebangun2. Tapi saya ikhlas menjalaninya hingga tulisan saya tembus ternyata. Syukur Alhamdulillah. 

Saya punya target, bahwa saya harus punya buku sendiri. Apapun itu. Fiksi maupun non-fiksi. Setidaknya ada yang bisa saya tunjukkan pada anak-anak saya nanti dalam bentuk fisik. Dengan harapan, anak2 bisa mengabadikan hidup mereka juga nantinya melalui tulisan. 

Memang, antologi ini belum apa-apa untuk penulis senior. Tapi bagi saya yang newbie, ini adalah awal yang baik dan jadi cemeti buat saya untuk terus berkarya dan pantang menyerah sebelum buku atas nama saya terbit!

Senin, 24 Februari 2014

What Dad Means To You?

If you hear the word "Dad", what does it mean to you?

For me, he is a hidden angel as mom a seen angel. We sometimes only think or see that our mom is the only one who looks after us when we were kids. While dad, he just cares us when we get sick. He brought us to the hospital. He is the boss, the one who earns money, and spare his limited time to play with us. 

But, have we ever thought what is actually in Dad's mind? 

He is the one who feels guilty when we are ill because he cannot pay his attention to us 24 hours like mom does. For the sake of his family, he's willing to sacrify his body and soul in the name of happiness. From the deep of his heart, he always thinks about us 24/7. Never stop thinking. That's why sometimes he gets angry at us when his expectation to us is out of his mind. It doesn't mean he doesn't love you! The more he angry, the more he loves you actually. 

When Dad feels so sad? The answer could be: when his daughters have to live with strangers (red; husband) in which they just know from outter look. Who takes his former little baby and build a new family like he does/did. "Can he take care of my cute girl like I did? Will he make my daughter happy?" That might be crossed his mind. 

Everybody needs the figure of their Father. Don't hate him if he cannot be a good father for you. Everything must be a reason why. Let the time answers unless you cannot get it directly. Time will answers everything about your life. 

For you who have a brilliant father, as long as they live, please!!! Do the best for him. Without Dad, there will never be a half of his genetics in our body. No way! There will never be a word "Dad" of a "father" as we recognize it. Do as many positive things as you can for him. Before you regret in a life time. 

From now on, don't hesitate to say "I Love You, Dad".

That is Dad means to me. What Dad means to you?

Minggu, 23 Februari 2014

Selamat Dinas, Sayang...

Aku gak tau harus berekspresi gimana hari ini hingga 5 hari ke depan. Masalahnya suami semalam berangkat dinas di kota tempat ia dibesarkan. Yup, kota kembang, Bandung. 

Perasaanku campur sari bin nano-nano sih. Ada sedihnya, ada senengnya juga. Lebih parah biasa aja juga ada. Dasar istri parah ya hihihi. Eits, jangan suuzon dulu. Semua itu ada alasannya. 

Kenapa aku sedih? Ya namanya ditinggal ampe seminggu sama suami rasanya pasti sepi banget. Apalagi kami pasangan muda (red; hampir kepala 3), punya bayi pula yang baru aktif2nya karena udah bisa merangkak, pusing 7 keliling gak ditemenin suami. Pfiiuuh... Biasanya ada temen becanda n curhat, kali ini mesti dirapel dulu sampe orangnya pulang. 

Biasa aja karena aku sehari-harinya juga ketemu cm sore n malam aja. Siangnya walaupun pulang untuk maksi habis itu molor lagi deh. Trus berangkat ke lapangan kalo udah kedengaran bel. Kalo di rumah tu dari pagi mpe malam yang dominan urusin anak ya cuma aku. Suami paling ajakin main di luar pke stroller pas udah baby dalam keadaan wangi n segar. Klo udah pup or pipis aku juga yang turun tangan. Dan keseharian selama punya bayi ya ngurusin bayi aja. Dari mulai ia bangun mpe tidur lagi. Apalagi sekarang udah MPASI walaupun masih juga ASI. 

Senang juga :D kenapa? Karena aku jadi lebih bebas mau ngapain aja di rumah. Bisa santai2 dari urusan beres2 rumah, bisa menulis tanpa ada hambatan berarti (suami suka jealous kalo aku udah berkutat ama gadget, pasti nulis sesuatu). Satu hal lagi yang paling bikin girang adalah gak ada yang protes saat aku baca buku. Suami biasa suka caper minta dilayani supaya aku keputus baca bukunya. Ada-ada aja. 

Anyway, biasa kalo suami dines tu suka banyak shopping list dari aku. Soalnya jarang2 ada dinas keluar kota. Itu biasanya kalo aku gak minta ikut. Jauh bo' perjalanan dari Kaltim ke Jawa. Mesti 8 jam pake jalur darat n naik pesawat. Nah, kali ini juga gitu. Berlaku sederetan shopping list yang kalo satu item aja gak dibeli, aku pasti pasang jurus mewek sejagat raya :D

Selasa, 18 Februari 2014

Penyesalan Yang Tak Berujung

Terasa lain saat suami menunjukkan sms yang diterimanya pada hari Jumat lalu (7/2) ketika ia pulang dari kantor untuk makan siang.
"Iwan, Graha kondisi nenek sudah lemah sekali. Minta doanya ya". 
Kubaca pesan singkat yang dikirim oleh bapak mertua dengan perasaan yang tak menentu. Benar-benar tak biasa. 

Memang nenek dari suamiku yang tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat sudah lama menyandang penyakit Parkinson. Penyakit yang menyerang saraf dan sering menjangkit kaum manula. Tangan gemetar ketika digerakkan dan harus dituntun jika hendak berjalan. Tidak tahu asal-usulnya mengapa nenek Tasik tiba-tiba terserang penyakit itu. Yang jelas, setelah kami menikah nenek memang sudah sakit, namun masih mampu berjalan sendiri. 

Entah sebuah kebetulan, suami diutus untuk melakukan perjalanan dinas dari kantor selama dua hari. Kamis dan Jumat (13-14/2). Berhubung tinggal di remote area, maka setiap pekerja diberikan jatah dua hari perjalanan sebelum dinas dan dua hari setelah dinas. Sehingga perjalanan dinas dimulai dari Selasa (11/2) dan berakhir pada hari Minggu (16/2). Biasanya aku memilih untuk tinggal di rumah saja. Namun kali ini, dengan perasaan tak keruan kuputuskan untuk ikut bersama bayi kami yang akan menginjak tujuh bulan. 

"Abang sudah menelpon Bapak, dek."

"Loh, kan kita sudah sepakat untuk tidak menghubungi Bapak, Bang!" Kutahan emosi sebisa mungkin untuk menjaga perasaan suamiku. 

"Bapak pasti marah, dek kalau kita tiba-tiba berada di Bandung. Karena kondisinya seperti ini..." wajah suamiku mengiba, membuatku tak tega. 

"Tapi Bang..." belum sempat kulanjutkan, suami segera memotong. 

"Abang harus ke lapangan sekarang, dek. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Hati-hati ya Bang!" kujawab dengan perasaan jengkel yang kupendam. 

Terngiang kembali isi sms dari Bapak mertua. 
"Iwan, Graha kondisi nenek sudah lemah sekali. Minta doanya ya."

Kabar tentang kondisi nenek yang drop sudah kami dengar beberapa hari lalu dari ibu mertua via hp. Sudah beberapa hari Mamah di Tasik untuk merawat ibunya (nenek), meninggalkan bapak mertua bersama Ganang, adik iparku. Sejak terkena serangan jantung akhir 2012 lalu, Bapak memang lebih khawatir jika hendak bepergian jauh. Namun sms itu, jelas sekali kalau Bapak juga berada disana dan menyaksikan langsung keadaan nenek. Ini artinya kondisi nenek sangat serius. 

Selasa pagi (11/2) kami bertiga tiba di Bandara Husein, Bandung dengan selamat. Sementara suami menunggu bagasi, aku bersama Nai menantinya di cafe depan bandara. Lumayan, Nai bisa menikmati menu sarapannya dengan santai. Tidak lama kemudian kulihat suami menghampiri kami dengan bagasi. 

"Dek, Bapak dan Mamah sudah dalam perjalanan ke Bandung rupanya."

Kulihat wajah segan suami saat bicara karena ia tahu aku akan marah. 

"Tuh, kan adek bilang apa! Seharusnya Abang enggak perlu mengabarkan rencana kita ke Bandung. Biar kita yang melanjutkan perjalanan ke Tasik, Bang! Mereka bisa menunggu disana..." suaraku sedikit tinggi karena dugaanku ternyata benar. Moodku tiba-tiba kacau. Bisa-bisanya suami mengubah rencana tanpa kompromi terlebih dahulu. 

Suami memutuskan untuk memanggil taxi mengantarkan kami ke rumahnya di Panghegar, Bandung. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam. Kesal dengan keputusan suami yang tidak pikir panjang. 

"Dek..." benteng kesabarannya luluh lantak, suamipun memulai pembicaraan. 

"Ya..." kujawab singkat tanpa melihatnya. 

"Abang kasian aja sama Nai. Dia masih terlalu kecil untuk perjalanan jauh."

"Bang! Nenek belum pernah melihat Nai sejak lahir. Sudah sering nenek bilang agar membawanya ke Tasik. Ini kesempatan kita untuk mewujudkan keinginan beliau, Bang! Kita enggak pernah tahu umur seseorang. Setidaknya beliau sudah melihat cicit pertamanya sekali saja!" kali ini aku berkata tegas, entahlah aku juga heran dengan ke-ngotot-anku. Tapi sungguh, ini datang dari dalam sanubariku. 

"Abang apa enggak ingat, yang mengasuh Abang saat bayi itu nenek. Bapak sendiri yang bilang, pas Abang diare dititipkan ke nenek sampai Abang sembuh. Bahkan lama disana."

"Tapi Mamah bilang nenek biasa kayak gitu, dek."

"Enggak ada alasan untuk Abang enggak ke Tasik. Titik!"

Tak kuhiraukan sopir taxi mendengarkan pembicaraan kami. Suasana yang ada hening. Kalau kondisi Naira yang ia khawatirkan, itu hanyalah excuse agar bisa lebih lama menghabiskan waktunya di Bandung. Padahal ia sendiri tahu bagaimana track record Nai selama ini dalam hal traveling. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Apalagi Bandung-Tasikmalaya hanya tiga jam dengan jalur darat. Tidak lebih lama jika dibandingkan perjalanan panjang dari Sangatta-Balikpapan hingga 8 jam. Jalannya bahkan jauh lebih buruk dan berkelok-kelok. 

Setiba di Panghegar, tepat saat taxi kami berhenti terlihat Mamah dan Bapak mertua sama-sama turun dari ojek. Artinya, mereka sudah naik bis sejak kami boarding dari Balikpapan. Ah, andai saja...

***

Alhamdulillah suami memutuskan untuk berangkat menjenguk nenek ke Tasik sore itu juga. Tentunya setelah aku mendesaknya di hadapan mertua. Tapi Mamah dan Bapak melarangku  untuk ikut bersamanya. Dengan terpaksa, aku mengiyakan. Takut kualat melawan mertua. Setidaknya suami sempat melihat kondisi nenek sebelum dinas ke Cikampek selama dua hari. Sebelum terlambat.

Kuraih hp yang tak jauh dari jangkauan, sembari mendampingi Naira yang sudah tertidur. Kecapaian. Pesan bbm masuk. 

Suami: Dek, Abang udah di rumah nenek 
Aku: Alhamdulillaah. Gimana nenek bang?
Suami: Pas Abang baru sampai, nenek langsung nanya Nai, Dek
Aku: Tuh, kan!
Suami: Nenek udah lumayan tenang kata sodara-sodara. Sebelumnya ngelindur terus. Trus sempat juga tadi nunjukin video Nai. Nenek takzim melihatnya
Aku: Nenek ingin ketemu sama Abang dan Nai. Adek yakin sekali. Makanya sekarang nenek lebih tenang. 

Lima menit. Sepuluh menit bbm tidak berbalas. Tiba-tiba, hpku bergetar. Suami meneleponku. 

"Assalamualaikum, Bang."

"Waalaikumsalam, Dek. Nai udah bobo?"

"Udah, Bang. Baru aja. Gimana nenek, Bang?"

"Telinga nenek berdarah, Dek! Kayaknya digigit semut. Tapi udah dibersihkan, sih. Bantal dan sprei juga udah diganti. Sekarang nenek udah tidur pulas."

"Bawa aja ke rumah sakit, Bang. Takut kenapa-napa. Kasian nenek, pasti tersiksa!"

"Enggak apa-apa, Dek. Lagian nenek udah tertidur pulas. Oya, besok pagi Abang pulang ke Bandung. Abang dijemput pukul 5 sore dari rumah untuk dinas ke Cikampek."

"Yaudah Abang istirahat ya. Salamualaikum. Salam buat nenek ya Bang!"

***

Pukul tiga sore hari Rabu suami tiba di rumah. Membayangkan perjalanannya saja terasa sangat melelahkan. Ada perasaan lega aku dan Nai tidak ikut ke Tasik. Namun tetap saja hati ini merasakan ada yang kurang. Setelah makan siang, suami menceritakan lagi pada orang tuanya tentang nenek. Tidak sempat beristirahat, suamipun bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Cikampek. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 sore. Kumanfaatkan setengah jam sisa waktu tersebut untuk mandi dan shalat Ashar sebelum suamiku dijemput. Sementara Naira sudah berpindah tangan ke Bapak mertua sejak selesai kukenakan ia pakaian. 

Belum juga salam, kudengar suami menelepon paman di Tasik perihal kondisi nenek. Konsentrasi detik-detik hendak salamku buyar. Pikiranku sudah tidak-tidak. Setelah salam, kulipat mukena parasutku sekenanya. Kuserbu suami yang terlihat mondar-mandir di ruang tamu sambil menelepon. Bapak dan ibu mertua juga terlihat sibuk dengan mimik wajah yang tampak tegang. Pikiranku liar, namun tak ingin kuungkapkan. Tak sabar kutanya suami tentang yang sebenarnya. 

"Ada apa, Bang?" suami belum menjawab, Mamah langsung memotong. 

"Mamah sama Bapak disuruh ke Tasik sekarang juga, Teh. Kayaknya nenek juga udah enggak ada." 

Ya Allah, tak tahu lagi bagaimana perasaanku mendengar kata-kata ibu mertua. Beliau dengan tenang menjawab seperti sudah begitu siap dan ikhlas. 

"Teteh sama Nai ikut, Mah! Setidaknya keluarga Tasik bertemu Nai."

"Enggak usah, Teh! Mamah sama Bapak naik bis. Biar aja Teteh tinggal di rumah sama Ganang. Bentar lagi pulang dari kampus. Riweuh bawa bayi, kasiaan!"

Diluar dugaan justru Bapak mengizinkan. 
"Udah, enggak apa-apa lah. Teteh ikut aja sama Nai."

Tanpa ba-bi-bu kukemas semua peralatan Nai dan beberapa pakaianku dalam satu tas. Tak lupa Al-Quran saku kuikutsertakan di dalamnya. Untungnya suami memohon bantuan rekan kerja yang hendak menjemputnya ke Cikampek untuk mengantarkan kami ke terminal bis terdekat jurusan Tasikmalaya.  Syukurlah mereka memenuhi keinginan kami. Sebenarnya aku sudah meminta suami untuk menggunakan mobil rental atau mencari sopir untuk mobil Bapak menuju rumah nenek. Namun Mamah tidak setuju, tetap bersikeras dengan pendapatnya. Sepanjang jalan ke pool bis kami lebih banyak diam. Cemas. Khawatir. 

Tiba di terminal, bis masih kosong. Sepertinya kami harus menunggu beberapa jam lagi untuk berangkat. Terus terang aku kesal. Lebih karena asap rokok yang dengan seenaknya disembur oleh salah satu calon penumpang yang duduk agak jauh dari posisiku dan Mamah di ruang tunggu. Kuputuskan untuk keluar dari situ. Aku tidak mau asap rokok dihirup oleh Nai. Apa dia tidak tahu akibat dari asap rokok jika dihirup Nai? Apa dia mau menanggung biaya rumah sakit jika Nai dirawat gara-gara terhisap asap rokoknya? Ah, pikiranku kacau sudah. 

Yang terjadi selanjutnya sungguh mencengangkan. Aku yang baru saja tenang sambil menggendong buah hati di depan musholla kebingungan. Tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah semua terburu-buru dan panik setengah mati, setelah kecemasan dan kekhawatiran menyelimuti hati, mendadak berubah 180 derajat. Tiba-tiba saja suami memanggil menyuruh masuk mobil kembali. 

"Ada apa ini? Kenapa pulang lagi?" tanyaku dengan ekspresi tak mengerti. Terdengar Mamah berbicara cepat sekali dalam bahasa Sunda yang sulit kumengerti terjemahannya. Lalu disambut tawa oleh Bapak dan Mamah yang membuatku semakin tak waras. Kenapa sekarang jadi tertawa? Belum terjawab rasa penasaran ini, kuikuti saja perintah suami untuk masuk mobil. 

"Kenapa koq pada ketawa, sih?" tanyaku pada suami. 

"Mamah salah baca sms, Dek!" jawabnya disertai seringai tawa. Aku tersenyum masih tak mengerti. Kuarahkan pandangan ke Mamah yang salah tingkah.

"Iya Teh, tadi pas lagi duduk di ruang tunggu bis Mamah buka lagi hp. Lihat sms tadi ternyata itu sms tanggal 7 Februari kemarin. Trus Mamah telepon Mang Uden, eh katanya nenek baik-baik aja." 

"Tapi kan Abang juga udah langsung nelpon ke Tasik sebelum berangkat ke terminal tadi? Katanya gimana?" kualihkan pandangan ke arah suami meminta klarifikasi. 

"Memang tadi katanya nenek udah dipasang Oksigen sama bidan depan rumah. Sempat terasa sesak katanya." 

Karena situasi menjadi riuh di mobil, akupun jadi tertawa. Bahkan sambil bercanda mengingat kecemasan dan rencanaku mendesak suami untuk menyewa mobil. 

"Coba tadi pake mobil rental, harus bayar cancellation feenya kan! Haha Bapak sih enggak periksa dulu smsnya!" kini Mamah yang menyalahkan Bapak karena tidak ikut mengecek sms dengan teliti. 

"Loh, koq jadi Bapak yang disalahkan? Kan Mamah yang baca smsnya! Lagian harusnya kalau ada sms pasti bunyi. Tadi bunyi, enggak?" todong Bapak tidak mau kalah. 

"Iya ya, tadi sih Mamah lagi hapus-hapusin sms lama. Trus kebaca sms itu. Langsung tunjukin ke Bapak!"

Sumpah! Tawaku meledak seketika. Juga semua yang ada di mobil. Tidak enak juga karena sudah merepotkan rekan suamiku. Sepanjang perjalanan ke rumah yang ada hanya tertawa penuh canda. Belum lagi suami yang memberi saran gila untuk melanjutkan saja perjalanan ke Tasik karena terlanjur malu sudah pamitan sama tetangga. 

Benar saja, tetangga terheran-heran karena baru satu jam kami sudah kembali lagi. Berhubung maghrib tiba, suami memutuskan untuk berangkat setelah shalat. Biar rekan kerjanya juga bisa istirahat dan menghangatkan tubuh dengan teh hangat. Pakaian basah Nai kujemur kembali di belakang. Kebetulan Ganang juga baru saja pulang dari kampus. Ia terperanjat juga dan bingung. Suami menceritakan kembali kronologisnya pada sang adik hingga ia mengerti. Lalu aku shalat maghrib.

Saat hendak membongkar kembali barang bawaan, saat suami baru saja pulang dari mesjid, hp suami berdering. Suami berbicara dengan bahasa Sunda. Percakapan yang sangat singkat karena ia hanya menjawab "terima kasih."

"Bang, ada apa?"

"Nenek udah meninggal, Dek! Baru saja. Mah, yang tabah ya!" 

Bagai halilintar, ucapan suami begitu menggelegar di telinga. Detik itu juga Bapak memeluk Mamah ikut bersedih. Ganang yang tertunduk lalu menghubungi Graha yang bekerja di Cilegon, adik iparku. Sementara aku? Aku langsung terduduk di kursi yang memang tepat berada di belakangku. Seandainya kursi itu tak ada, dapat dipastikan aku tersungkur lunglai. Tubuh tiba-tiba terasa layu. Butiran bening itu cepat sekali keluar dari mataku. Seketika itu pula tangisku pecah. Suami menenangkanku. Aku yakin ia tahu sekali maksud dari tangisku. Kuraih Nai dari tangan Ganang. Kupeluk dan kuciumi ia sambil menangis. Lalu kukatakan,"Buyut tidak sempat ketemu sama Nai..." Tidak akan pernah. Bahkan cicit pertamanya sekalipun!

Dari kejadian ini, aku belajar beberapa hal. Jangan menunda-nunda untuk berbuat kebaikan. Terutama silaturrahim. Terakhir kali aku bertemu nenek sebelum hamil dan itu hampir dua tahun yang lalu. Saat hamil beliau ingin sekali melihat kehamilanku. Dan yang sangat kusesali adalah sebelum Nai kami bawa ke Kalimantan, kami habiskan satu minggu hanya di Bandung saja. Padahal nenek ingin sekali melihat cicit pertamanya. 

Kedua, jangan pernah tertawa di saat ada saudara atau teman yang sakit. Boleh jadi saat kita tertawa sebenarnya malaikat sedang bekerja menunaikan tugasnya dari perintah Allah. 

Begitulah skenario Allah. Semua telah tercatat di Lauh Mahfudz. Manusia hanya melakonkan saja namun Allah yang Maha Berkehendak. Memasrahkan segalanya padaNya dan menjalankan semua perintahNya. 

Semoga arwah nenek diterima oleh Allah swt. Dari sekian sanak famili yang menjaga nenek, tak mereka sadari sakratul mautnya hingga akhir hayat tiba. Semoga khusnul khatimah. Aamiin.





Minggu, 16 Februari 2014

Suddenly, Miss Sangatta Very Much!

Beberapa hari menghabiskan waktu di Kota Kembang, tiba pula waktunya untuk pulang. Biasanya kalo yang namanya turun ke kota, senengnya bukan main. Tapi tidak untuk kali ini.

Gimana enggak kaget coba! Pas baca beberapa info dari sosial media manapun, imbas dari letusan Gunung Kelud dalam beberapa jam saja udah menyebar luas hingga ke Yogyakarta. Padahal lokasinya di Jawa Timur. Inget banget, pas hari Jumat siang saya menjemur pakaian di belakang rumah mertua. Memang sih cuacanya kayak mendung, tapi ada yang aneh! Langit enggak keliatan awan, tapi mendung. Sekilas saya merasakan kayak hujan, tapi enggak terasa ada air yang menetes. Yah, daripada pulang dengan pakaian basah, saya biarkan aja di jemuran. Toh kalau hujan bisa diangkat lagi.

Masih dengan televisi yang tidak dinyalakan sejak pagi. Waktu itu sore sekitar pukul 5.30 pm. Udah baca sih dari status-status temen yang memberitakan letusan Gunung Kelud. Pas mau ngangkatin jemuran, awalnya biasa aja. Tapi ngeliat bajunya suami yang berwarna gelap, kayak ada abu menempel. Tipis banget memang tapi sangat kentara terlihat. Jangan-jangan...!

Bener aja, pas chatting sama teman-teman via bbm mereka pada bilang kalau pergerakan abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud sudah sampai ke Jawa Barat. Laa ilaahaillallaah... Gimana dengan penerbangan dari Bandung ke Balikpapan? Memang sih suami udah ngecek dari Jakarta (sedang dinas) katanya tiket dari Bandara Husein, Bandung udah sold out. Namun entah kenapa, saya udah curiga kalau Bandara juga bakal ditutup sementara karena abu sudah tebal di sekitar stasiun Bandung (mendapat kabar dari teman via WA). Untungnya suami orangnya cepat tanggap. Saya diminta untuk memesan tiket ke Balikpapan dari Cengkareng.

Astaghfirullaah, ternyata benar. Pas TV dinyalakan ada informasi melalui KompasTV bahwa Bandara Husein, Bandung telah ditutup. Huff, gak perlu was-was karena menurut informasi malah ada penumpang yang hanya 50% dari harga tiket beli yang direfund.

Alhamdulillah Bandara Soetta, Jakarta masih beroperasi bandaranya. Hanya beberapa tujuan yang tidak dibuka terlebih dahulu mengingat kondisi yang belum bisa terbang. Sekarang kami sedang di BNI Lounge sambil menunggu boarding dan menikmati hidangan untuk menghilangkan lapar dan dahaga. Cuacanya saat ini mendung banget diluar, awan tampak gelap dan tadi sempat hujan juga.

Ah, memang Sangatta ngangenin banget. Bersyukur rasanya tinggal walaupun di kawasan remote area, namun terasa nyaman disana.

Sangatta... I'm comiiiiing!!!

Senin, 10 Februari 2014

Selamat Jalan Pak Walikota Banda Aceh, Mawardi!

Sabtu malam, 8 Agustus lalu entah ada angin apa yang menggerakkan suami untuk menyalakan TV. Karena sudah hampir tiga bulan ini dengan tega dan nyaris kami biarkan ia nganggur begitu saja di ruang tamu. Paling sesekali saja itupun kalau ingat.

Baru beberapa menit TV nyala, tiba-tiba seorang teman mengirim pesan BBM mengingatkan tayangan ulang talkshow di chanel MetroTV. Setelah kira-kira 30 menit berlalu, tak sengaja mata terarah pada catatan kaki ketika giliran iklan ditayangkan. JDERRR. Laksana disambar gledek, jantung serasa berhenti sesaat. Enggak percaya. Sampai-sampai nunggu lagi 'footnote' yang berjalan ke kiri itu berulang. Ternyata benar. Bapak Walikota Banda Aceh, Mawardi meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihi raaji'un saya ucapkan bersama suami. 

Mungkin untuk rakyat Aceh yang mengenal beliau saja yang merasa kehilangan. Rekan dan sahabat-sahabat, serta sanak keluarga. Tapi ada kesan yang tak akan terlupakan oleh kami berdua walaupun kami bukan siapa-siapanya beliau. Yaitu, pada saat kami menghadiri undangan malam Australian Alumni Award sekaligus Gala Dinner di Hotel Four Seasons, Jakarta Selatan Juni 2012 silam. Beliau dinobatkan sebagai salah seorang yang inspiratif mendapat penghargaan untuk kategori Inspirational Award, selain Ibu Mari Elka Pangestu. 

Sangat tidak menyangka kalau malam itu harus mendengar sambutan pertama dan terakhir dari beliau. Sambutan spektakuler dari seorang berpengaruh yang mengaku sudah lama tidak pernah lagi berbahasa Inggris. Sangat rendah hati menurut saya untuk ukuran seorang pemimpin. Ternyata, malam itu pula pertemuan sekaligus perbincangan kami untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Sampai detik ini masih teringat oleh kami detik-detik itu. 

Setelah pembagian penghargaan kepada finalis dan pemenang, acara dilanjutkan dengan Gala Dinner. Saya memberanikan diri untuk menyapa Pak Mawardi yang saat itu hendak berbincang dengan Najwa Shihab. Kemungkinan terburuk sudah siap saya terima, dicuekin. Tapi diluar dugaan, ketika menyapa beliau dengan bahasa Aceh mendapat respon positif walaupun disuruh tunggu sebentar  ada hal penting yang harus disampaikan ke Mba Najwa. 

Sudah direspon saja senangnya bukan main, maka saya putuskan bersama suami untuk menikmati menu yang seumur-umur belum pernah dicicipi. Maklum, biasanya hidup di hutan hehe. Yang lainnya banyak yang berdiri agar bisa sambil berbincang, persis gaya orang bule. Tapi kami berdua memilih makan sambil duduk. Piringnya kepenuhan soalnya. 

Tak disangka tak diduga, sosok walikota Banda Aceh tersebut menghampiri kursi kami berdua yang terletak lumayan jauh dari posisi beliau berbicara tadi. Speechless. Itulah yang saya rasakan. Sementara suami baru mengakui saat di taxi dalam perjalanan pulang. Beliau yang malah membuka pembicaraan dan banyak bertanya tentang kami secara personal. Saat itu kedekatan antara anak dan bapak lah yang terasa. Kami bukan orang yang berpengaruh, bukan elit politik, bukan pengusaha, bukan apa-apa. Hanya orang biasa. Namun Beliau begitu legowo duluan menyapa dan bisa dibilang mencari jejak kami malam itu. Sepuluh menit itu tidak terasa dan waktu yang sangat berharga bagi kami berdua. Dan ternyata Allah sudah mengatur sedemikian rupa. 

Kesan itu menjadi kenangan yang sangat berarti bagi kami dan keluarga. Walaupun tidak bertemu, tapi sudah cukup mewakili dari cerita kami. Bahkan di hari yang sama ketika pemberitaan, justru orang tua kami ikut mengabarkan. Ah, andai saat itu kami berada di Banda Aceh. Seluruh upaya akan kami sempatkan untuk ziarah. Terlepas dari kesempatan yang tidak kami miliki tersebut, hanya doa yang bisa dipanjatkan semoga amal dan kebajikan yang telah beliau berikan selama membangun Aceh, khususnya Banda Aceh sejak pasca tsunami diterima oleh Allah swt. 

Aamiin.

Kamis, 06 Februari 2014

Bersyukurlah Selama Panca Indera Kita Masih Sehat

Semua pasti tau, termasuk anak-anak bahwa panca indera terdiri dari mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Kelima organ ini memiliki fungsi penting dalam proses penerimaan informasi yang ingin atau perlu kita ketahui dari alam semesta. Berbahagialah mereka yang kesemua organ utama di atas berfungsi dengan sangat baik. Karena tidak semua orang memilikinya. 

Mata, untuk melihat. Terlepas dari mekanisme penglihatan secara biologis, bisa melihat adalah karunia terbesar bagi seorang manusia. Melihat kedua orang tua, sanak saudara, suami dan anak-anak, pemandangan hijau, hiruk-pikuk kota, menonton televisi, makhluk hidup dan mati lainnya. Melalui mata kita mampu mengenal seseorang dan benda yang ada di sekitar. Ketika ada bahaya mengancam kita mampu menghindar, parit atau tiang mampu kita elakkan. Sekarang coba tutup mata kita, lalu rasakan betapa Allah sayang sekali pada kita. 

Telinga, untuk mendengar. Ketika bangun pagi ingatkah kita suara yang pertama kali kita dengar? Masih ingatkah kita saat-saat guru menerangkan pelajaran di kelas? Atau ketika mama memanggil karena membutuhkan bantuan kita? Saat sahabat karib curhat tentang masalah yang dihadapinya, kala bayi menangis untuk pertama kalinya, ketika suara azan memanggil untuk bersujud padaNya? Apakah kita mendengarkannya?

Musim hujan tiba. Walaupun musim yang terjadi di negara kita sudah tidak jelas lagi  kapan-kapannya. Flu melanda hingga bikin hidung tersumbat. Bandingkan saat kita dapat dengan mudah mencium wangi bunga-bunga di taman, aroma makanan yang mama buat, bebauan yang tidak sedap maupun sebaliknya. Terasa sekali bukan perbedaannya?

Ketika kenikmatan itu adalah pada saat bisa menentukan ini manis, itu asam, garam asin, obat pahit, maka terbayangkah oleh kita ketika apapun yang kita makan terasa hambar? Tanpa rasa. Plain. Ketika lidah sangat membantu setiap insan untuk mengungkapkan sesuatu pada orang lain dan bisa berbicara banyak hal, bagaimana jika sebaliknya? 

Alangkah nikmatnya ketika kita masih mampu membedakan hawa panas maupun dingin. Merasakan merinding tiba-tiba, merasakan perih ketika teriris pisau, sakit ketika dipukul, dan kehangatan saat mama memeluk. Atau tuts keyboard laptop/PC maupun saat mengetik layar touchscreen dari gadget. Lengkap sudah. 

Namun tanpa disadari, kesempurnaan yang kita rasakan dari indera tersebut menjelma menjadi comfort zone dalam diri. Kita dimanjakan oleh rasa nyaman dalam kotak kehidupan sehingga takut keluar darinya. Bagaimana dengan mereka yang punya keterbatasan? Terbayangkah oleh kita perjuangan mereka dalam mengakses informasi tentang dunia agar mereka juga paham seperti kita? Mampukah kita jika berada di posisi mereka? 

Bersyukurlah pada Yang Maha Pencipta dan Kuasa karena hingga detik ini kita masih diberikan nikmat itu. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan Allah mencabut nikmatNya dari seorang hamba. Mungkin besok atau lusa, atau beberapa tahun lagi. Bahkan mungkin sebentar lagi. Tugas manusia hanya bersiap-siap saja. Kesiapan yang Allah sendiri sudah berikan di dalam kitab suciNya. 

"Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS: Ar-rahman)

Rabu, 05 Februari 2014

Menulis Itu Adalah...

Sudah beberapa hari ini mata saya sembab, kebanyakan nangis. Mata sedikit 'terbuka', hati semakin peka, seluruh indera terpacu. Bukan karena lagi musuhan, bukan juga karena sedang menghadapi masalah, atau malah nangis liat berita di teve. Lebay sekali. Hal diatas saya rasakan gara-gara membaca novel. Bukan Gara-Gara Indonesia. Itu sih buku yang ditulis oleh Mas #AgungPribadi. 


Novel karangan siapa tidak penting. Yang jelas, novel ini sedikit banyak memberikan pandangan kepada saya tentang cara menulis. Sungguh membuat saya berdecak kagum. Sehingga membuat saya berkesimpulan bahwa...


Menulis itu sederhana. Sederhana dalam artian luas. Dari novel itu saya bisa katakan bahwa gaya penuturannya sangat sederhana. Mudah dicerna oleh saya yang selama ini buta dengan istilah-istilah sastra. Ide ceritanya juga "simple", berkisar pada kehidupan sehari-hari. Sehingga mudah sekali mengikuti alur ceritanya walaupun dikemas secara acak. Atau dikenal sebagai alur campuran. Intinya juga sederhana, mudah dimengerti. 


Yang membuat menarik adalah ketika membacanya serasa menonton film di layar lebar. Seolah nyata. Perasaan yang bercampur-baur, seperti diaduk-aduk. Kesal, marah, bahagia, sedih, terkejut, tertawa. Begitu hidup. Saat bagian yang sedih, tiba-tiba saja mata perih, lalu keluar air hingga pipi basah. Ketika ada selipan humor, tertawa jadi hal yang tak bisa ditahan. Sampai keluar suara. Tiba di bab yang berisi pesan, otomatis kepala manggut-manggut tanda setuju. Belum lagi ceritanya sengaja dipotong-potong, bikin gemes ingin tau kelanjutannya seperti apa. Sampai akhirnya mulut ber, "Oooo, begitu rupanya!" 


Menulis itu juga harus jelas pesannya apa. Pembaca tidak mau dikecewakan karena merasa sudah menyia-nyiakan waktu, yang sebenarnya bisa melakukan hal lain yang lebih penting. Singkatnya, harus ada yang membekas di hati. Selain pesan, ceritanya juga harus jelas. Kenal sama tokoh di dalamnya, konsisten dalam setiap penggalan cerita (misal; umur, karakter, dll) dan yang terpenting adalah sebuah cerita harus logis. 


Satu lagi menurut saya, tulisan itu harus punya kejutan-kejutan. Membuat pembaca terperangah. Berdecak kagum. Angguk-angguk setuju. Merinding ketakutan atau terharu. Sehingga membuat tidak sabar sampai-sampai gerakan mata saat membacanya jadi begitu cepat. Saking penasarannya. 


Tapi ada satu hal yang sulit. Yaitu, memulai menulis. Kalau membaca karya orang lain rasanya koq gampang banget gitu. Rumusnya padahal udah keliatan, tapi begitu jari ingin digerakkan tiba-tiba 'mati ide'. Gak tau mau nulis apa. Padahal yang kita alami selama hidup banyak sekali. Kalau dibukukan bisa jadi warisan berharga buat anak-cucu. 


Jadi pesan buat teman-teman, saat menulis jangan lupa unsur-unsur di atas  ya... Soalnya kalau saya yang disuruh menulis, maka jawaban saya adalah, "BELUM BISA". -_-


Kamis, 30 Januari 2014

Menanti Ayah

Beginilah resiko jadi istri yang suaminya kerja lapangan. Maklum, suami bekerja di salah satu perusahaan minyak dan gas di Indonesia. Kebetulan dari awal training hingga penempatan di Sangatta, Kalimantan Timur dan masih hingga saat ini. 

Sejak tadi sore memang udah banyak yang calling suami ke hpnya maupun yang langsung datang ke rumah dinas kami membicarakan tentang program kerja. Suami juga bilang ke aku bahwa malam nanti akan ada cementing alias nyemen. Sebagai Supervisor di lapangan, mau gak mau suami wajib hadir saat program dijalankan. Walaupun dengan begitu harus mengorbankan kebersamaannya dengan keluarga. Namanya amanah, tanggung jawab besar, jadi kudu diprioritaskan. 

Kata suami sih, cementing itu paling cepat 2 jam pengerjaannya. Tapi kalo ada trouble di lapangan, bisa sampai 6 jam baru selesai. Lama banget memang, pernah suami tu berangkat pukul 9 pm baru pulang pukul 2 am. Hiks... Kasian banget harus begadang dia saat itu di lapangan. Kegiatan kayak gini gak tiap hari sih. Jarang banget. Dalam setahun paling 10x kayaknya selama aku tinggal di rumah dinas. Selebihnya, suami selalu pulang sore seperti biasa. 

Suamiku, hati-hati di lapangannya ya... Mudah2an selamat kru semuanya tanpa kendala apapun disana. Selamat bertugas ayaaah... 

We Love You mmmuuuaaach


Perjuangan Bayiku

Lucu sekali melihat bayi. Sosok kecil, imut nan menggemaskan tak membuat bosan mata memandang. Coba tengok bayi Nairaku. Kulit yang bersih, hidung bangir, pipinya yang tembem sampai-sampai hampir tumpah. Kalau ia menundukkan sebagian wajahnya, seketika itu pula pipi seperti menelan hidungnya. Saking 'chubby'nya tu pipi. Apalagi jika ia tersenyum, aduhai mampu menghipnotis siapa saja untuk terus menatapnya. Ah, Naira. 

Belum lagi pahanya yang menampakkan beberapa lipatan dan betis bak pemain bola. Otot yang mengisi tulangnya pun sungguh padat dan gempal, yang membuat sang ayah selalu mengeluh pegal tiap menggendongnya agak lama. Sudah enam bulan rupanya kau hirup udara Allah, nak. 

Tadi mama tertawa melihat tingkahmu, nak. Ketika kau asyik memainkan bagian atas (penutup) kotak yang melindungi lipglos mama, yang bentuknya segi empat bermotif bintang warna-warni. Mungkin corak tutup kotak itulah yang membuatmu tertarik dan memutuskan untuk menggenggamnya. Sengaja kulakukan agar kau bisa mengenal banyak benda di sekitarmu. 

Memang saat mama sodorkan itu, kau tak langsung mengambilnya. Dengan mimik serius kau perhatikan dengan seksama seperti memastikan bahwa benda di hadapanmu cukup menarik untuk dimainkan. Akhirnya, setelah kau menimbang, menilai dan memutuskan, kini tangan mungil itu berpindah arah dan menggenggam sebagian kotak yang terpisah. 

Posisimu tengkurap saat memulai bermain dengannya. Jemari mungil tapi buntal itu meraba benda yang baru kali ini ia terima. Tangan kanan sibuk memreteli, sementara tangan kiri lebih kau percayakan untuk menopang bobot tubuhmu. Sesekali engkau ganti peran kedua tanganmu, agar adil mungkin. 

Tutup kotak yang keras dan tebal itu mulai berputar, lalu terbalik, berganti arah, tapi seolah pasrah saja mau diapakan juga oleh putriku. Bayi Naira tampak semakin penasaran. Ia menekuk lutut kanannya namun tangan tetap enggan menghentikan aktivitasnya. Tangan kirinya kini mengibaskan benda baru itu 90 derajat dari posisi awal. Bagian tubuh lainnya mengikuti arah benda tersebut berpindah. 

Tak berhenti sampai disitu, bayi Naira mulai menggenggam erat dan secara perlahan coba tuk memasukkan benda segi empat itu ke mulutnya. Tak berhasil. Terlalu kecil mulut bayi Naira untuk menampungnya. Yang ada malah saliva meluber kemana-mana. Lalu penutup itu diletakkannya ke lantai, diperhatikannya lagi. Kali ini hanya sebentar, lalu dimasukkan lagi untuk digigitnya. Tak bisa juga. Nairaku berjuang. 

Hampir putus asa, ia pun merengek. Naira mencondongkan punggung dan kepalanya ke belakang hingga posisi tubuh jatuh terlentang. Sementara tangan kanannya masih menggenggam tutup kotak pelindung lipglos. Sepertinya ia masih belum sadar dengan genggamannya. Karena bayi Naira menangis manja merasa tak berhasil dengan usahanya. Tapi kemudian ia langsung terdiam ketika dilihatnya setengah kotak segi empat itu berada di tangannya. 

Pemandangan yang menarik buatku dan sayang untuk dilewatkan. Begitulah cara ia belajar mengenali apa yang dilihatnya. Menstimulus daya kerja otak, sensorik dan motoriknya untuk membantu 'perjuangan' dan perkembangannya.


Nyaris Gak Pernah Nonton TV

Semenjak punya anak, entah kenapa jadi males kalo mau nonton tv. Jangankan nonton, nyalainnya aja gak ingat. Entah lah, kirain cuma aku aja. Ternyata suami juga ketularan malesnya hehehe

Mungkin memang ngaruh ya kalo udah punya anak. Padahal suamiku itu hobi nonton loh. Terutama channel HBO. Apalagi yang menampilkan berita terkini, sebelumnya rutin tiap malam gak boleh kelewatan. Memang aneh juga kali ini. Masih belum nemu alasan kenapa bisa jarang banget nonton tv. 

Bisa jadi juga karena kami masing-masing punya gadget yang lebih praktis untuk dipantengin. Atau memang kebetulan anak kami lebih menarik untuk diperhatikan ketimbang masalah-masalah yang muncul saat ini. Yang jelas, kasus-kasus ataupun berita apapun aku updatenya lebih sering via FB. Ya lagi-lagi FB bisa multifungsi. Benar-benar media sosial deh. 

Jadi selama dua bulan ini, terhitung sejak pertama kali bawa anak ke rumah dinas, bisa dihitung jari berapa kali kami menyalakan tv. Bahkan suasana malam ini bener-bener lengang karena suami dan anakku tertidur pulas. Yang satu karena capek seharian bekerja, satu lagi memang pasti ngantuk jam segini hehe

Oke, segitu dulu info untuk saat ini ya... Pantengin terus blog ini dan baca-baca juga tulisan saya yang lain ya ;) ting


Rabu, 29 Januari 2014

Menu MPASI: Tragedi Pisang dan Tepung Beras Merah

Gak kerasa ya hidup itu. Perasaan baru kemarin asyik bermain sama teman-teman sepantaran, eh tiba-tiba udah menikah. Perasaan baru aja hamil, gak taunya anak udah 6 bulan aja. 

Dengar kata 6 bulan, pasti kaum ibu langsung teringat "pasti udah mulai makan" hehehe... Dan itu memang benar ibu-ibu sekalian ^^

Alhamdulillah Naira saya berikan ASI eksklusif. Gak perlu bangun malam kalau bayi nangis pengen mimik, tinggal sodor dan cuma ngorbanin waktu tidur beberapa detik. Untungnya, Naira itu bayi yang sangat pengertian, kalau malam tidurnya pulaaass banget. Gak usil suka ngajakin main. 

Sekarang usianya sudah 6,5 bulan. Tanggal 16 kemarin ia genap 6 bulan. Tapi saya dan suami sudah memperkenalkan buah mangga padanya satu minggu sebelumnya. Hanya sekedar dijilatkan saja, tidak membuat pureenya. Hal ini kami lakukan untuk melihat bagaimana antusiasnya kepada selain ASI. Tapi alasan utamanya karena gak tega melihat Nai yang pasang wajah innocent dan kepengen makan saat kami menyantap makanan. 

Ketika Nai sudah genap 6 bulan hingga saat ini, kami sudah memberikan beraneka macam buah. Tambahan lagi yaitu tepung beras merah. Apa saja jenis buahnya? Tentu saja buah mangga, trus saya beri apel merah, pir, pepaya, alpukat, dan pisang ambon. Trus untuk sumber energinya saya beri tepung beras merah yang dikukus pake microwave selama 50 detik. Sebelumnya saya sangrai dan blender sampai halus beras merahnya. Untuk buah-buahan umumnya saya blender, misalnya pepaya, mangga dan alpukat. Untuk apel dan pir saya kukus dulu baru dihaluskan. Nah, gimana dengan pisang?

Saya mau sharing sama kamu pengalaman yang gak mengenakkan sekaligus pembelajaran seputar menu MPASI. Jadi awal-awal tu kan heboh pengen nyobain banyak jenis buah ke bayi. Trus kurang menggali informasi yang lebih mendalam, membuat saya main trial and error ngasih menunya. Jadi suatu kali, tepung beras merahnya saya campur air matang saja tanpa dimasak trus langsung saya suapin ke Naira. Dianya lahap banget makannya sampai habis setengah mangkuk. Ditambah lagi pas siang saya cuma menghaluskan manual dengan sendok untuk pisangnya.  Itu jg Nai lahap sampai suapan terakhir. Lalu???

Alhasil, bayiku rewel banget malamnya. Biasa suka main tapi waktu itu nangis mulu. Paginya BAB tapi dikit. Masih belum curiga. Siang ampe sore Nai gak ada BAB sama sekali. Agak was-was malamnya karena ngeliat tingkah Nai gak biasa. Teringat juga siangnya kayak ngeden tapi gak keluar apa-apa kecuali cuma pipis. Nah, suamiku pas pegang Nai ngerasain kalau ia sedang BAB tapi nangis. Kuperiksa popoknya ternyata benar. Segera kuajak suami sambil gendong Nai ke kamar mandi. Saat popok kubuka baru Nai leluasa BAB. Sungguh kasihan melihat Nai yang mungkin kesakitan karena BABnya keras dan banyak. Tidak seperti biasanya, lancar dan standar saja. Setelah semua keluar, Nai kembali ceria. Lega rasanya. 

Jadi buat ibu-ibu sekalian, saat memberi MPASI di awal-awal jangan sampai teksturnya langsung kasar ya... Jangan kayak saya 😁

Minggu, 26 Januari 2014

Kejar Target and Finally I Can Make It!!!

Alhamdulillaah hari ini terkejar juga targetnya :) Sebelumnya saya mau cerita sedikit sama kamu tentang targetan yang saya maksud. 

Alhamdulillah udah 2 minggu ini saya ikut program ODOJ, One Day One Juz via Whatsapp. Kebetulan sekali pas daftar udah lengkap 30 orang. Besok malamnya saya langsung dihubungi oleh penanggung jawab dari grup saya. Jadi program ini ibarat kita tadarus bareng, tapi jarak jauh. Di awal kita milih mau ngaji juz berapa trus lapor sebelum pukul 8 pm udah beres apa belum. Hari berikutnya, dst kita melanjutkan juz yang sudah kita baca. 

Trus program ODOJ ini juga kita boleh minta perpanjangan waktu kalau kita merasa gak kan terkejar sebelum pukul 8 pm. Mungkin sedang ada tugas, bepergian, dan uzur lainnya. Seandainya kita merasa tidak mampu menyelesaikannya, kita boleh minta juz bagian kita dilelang ke anggota untuk diselesaikan. Biasanya pada rebutan mau mengambil karena mengingat 1 huruf dari Al-Quran jika dibaca mendapat pahala 10 kebaikan. 

Nah, berhubung hari ini hari Minggu, suami juga libur, hampir semua waktu saya habiskan untuk keluarga kecil saya. Apalagi agenda kami lumayan padat di rumah (sok sibuk intinya!). Tapi Alhamdulillaah sebelum pukul 8 pm saya pastikan juz bagian saya selesai. Waktu buat keluarga juga maksimal. 

Saya juga mendengar ada kontradiksi yang terjadi berkaitan dengan ODOJ ini. Ada yang bilang ria sehingga terkesan pamer. Sistem laporan yang mengarah program ini terkesan seperti itu. Belum lagi sistem lelangnya jika ada anggota yang tidak mampu menyelesaikan tilawahnya. Menurut saya, sah-sah saja. Pro dan kontra pasti ada untuk setiap hal.

Terlepas dari itu, jujur, saya ikut program ODOJ ini bukan ikut-ikutan. Lebih karena saya merasa malu sama Allah. Kenapa? Sebelum punya anak, tilawah saya rutin sekali setiap habis shalat fardhu. Masa sekarang sudah punya anak saya jadi lalai kepada Yang Menganugerahkan anak. Ter la lu menurut saya. Jadi program ODOJ ini sebenarnya untuk motivasi saya agar meningkatkan ibadah saya pada Allah. Soalnya ngajinya jadi sering bolong selama belum ikut program. Ini juga saya lakukan untuk memberi contoh pada bayi saya agar sejak dini ia terbiasa dengan mendengarkan ayat Al-Quran. Namun, saya mengakui hanyalah seorang yang sangat awam tentang ibadah. Saya mengambil positifnya saja dari itu semua.

Kesimpulan saya adalah dahulukan kepentingan kita terhadap Allah, setelah itu baru memikirkan urusan dunia. Kalau waktu untuk dunia kita sempatkan, mengapa untuk Allah kita sempitkan :)
Wallaahu a'lamu bisshawaab. 

Jumat, 24 Januari 2014

Pengen Blog Punya Rangking Yang Bagus!!!

Hari ini saya mendapat pencerahan. Tidak rugi rasanya bergabung dengan grup fb yang mengatasnamakan diri sebagai Komunitas Bisa Menulis. Kenapa? Karena itu adalah grupnya Asma Nadia dengan admin suaminya sendiri yaitu Isa Alamsyah serta partnernya mas Agung Pribadi, seorang sejarawan yang berhasil menelorkan buku yang berjudul Gara-Gara Indonesia.

Itu aja?

O tentu tidak. Saya bisa menemukan banyak pengetahuan tentang dunia kepenulisan dari sana. Menariknya lagi adalah semua anggota KBM boleh memberikan kritik dan sarannya, yang populer disingkat sebagai 'krisan' pada tulisan yang telah diposting. Tujuannya? Untuk perbaikan dan peningkatan mutu keahlian menulis kita. Bukan itu saja, di KBM malah kita bisa memperoleh banyak informasi terkini melalui postingan2 para member serta dapat memperluas link pertemanan dari sekian puluh ribu warga KBM. 

Trus apa hubungannya sama rangking blog? Hubungannya adalah dari aktivitas menulisnya. Informasi ini saya peroleh dari seorang member KBM yang akrab dipanggil Kang Dana. Nah, kata beliau gampang sekali untuk mengetahui urutan blog kita yang berhasil dijaring oleh google. 

Hal yang pertama sekali harus diingat adalah kamu harus punya blog dulu. Kalo tidak ya liat rapot aja kamu rangking berapa di sekolah hehe.. Selanjutnya kamu harus pastikan blog kamu itu aktif terus n gak plagiat. Karena banyak sekali orang yg lupa sama alamat blognya saking banyak anggurnya di blog (red: dianggurin). Sekarang baru masuk ke bagian inti (senam kalleee). Kamu buka situs alexa.com lalu masukkan alamat blog kamu. Klik tanda search sebelah kanannya dan keluarlah rangkingnya. 

Blog akan semakin bagus kalo nominalnya semakin kecil. Kamu juga bisa koq ngecek blog orang lain. Kalo penasaran, cek aja blog saya hasilnya gimana. Hehehe pengen ketawa. 

Nah saatnya giliran kamu ngecek peringkat blog kamu. Jangan lupa share disini ya biar saya punya teman tertawa terpingkal-pingkal hahaha